Bukan Romeo dan Juliet

romeo julietGue ga ngerti dengan jalan pikiran orang-orang yang mendewakan cinta sampe sebegitunya. Kau ke laut, aku ikut. Kau mati aku pun setia menemani. Percintaan digambarkan dengan sangat kelam. Bahwa puncak dari rasa kesetiaan harus berakhir dengan kesedihan mendalam bahkan kematian.

“Bunda, sepertinya ayah ga kuat lagi dengan sakit ini”

“Ayah ga boleh ngomong gitu. Bunda jadi sedih”

“Gapapa bun, biar Ayah yang pergi. Bunda harus kuat ya. Tolong bilangin ibu guru kalo ayah belum bisa nyelesein PR matematikanya”

“Tapi yah, bunda ga bisa hidup tanpa Ayah. Kalo ayah pergi, lebih baik bunda juga turut serta”

“Njir, gue cuma masuk angin woi”

Yah, semakin hari semakin banyak orang yang mendramatisasi kisah cintanya. Seperti kisah ayah-bunda di atas. Pelaku percintaan tersebut pun tak jarang didominasi oleh siswa-siswi yang masih duduk di bangku sekolah tapi sudah khatam dengan bumbu drama.

Dan semuanya harus berterima kasih kepada sosok William Shakespeare yang berjasa besar dalam kisah cinta picisan para ABG masa kini. All Hail Shakespeare.

Shakespeare layak dinobatkan sebagai bapak per-FTV an dan film percintaan yang mengharu biru dan mendayu-dayu. Ia adalah orang yang paling berjasa menghadirkan ide-ide film dan sinetron bertemakan percintaan yang tragis hingga membuat banyak orang menangis beranak sungai.

Siapa tak kenal kisah Romeo dan Juliet? Kisah cinta masterpiece buah karya William Shakespeare begitu mendunia hingga dimuat dalam berbagai versi dan menjadi simbol yang dilekatkan pada “cinta abadi”. Atas inspirasi romeo dan juliet, banyak sekali latar belakang cerita percintaan menyadur tema “cinta sampai mati”.

Mungkin banyak kisah serupa, namun Mark Antony-Cleopatra, Napoleon-Josephine ataupun Laila-Majnun tidak sepopuler kisah romeo-juliet.

***

Minggu lalu, gue berpergian dengan menumpang commuter line Bekasi-Tanah Abang. Seperti biasa, gue menghadiri acara pernikahan untuk yang kesekian kalinya. Setiap kali datang kondangan gue rasanya pengen membawa secarik kertas bertuliskan “JANGAN TANYA KAPAN GUE NYUSUL JADI PENGANTEN” yang ditempel di kening gue. I’m fed up. Huh!

Berjalan sendirian tidak begitu buruk, apalagi dengan menggunakan kereta. Kita bisa mendapatkan berbagai inspirasi, bertemu orang-orang baru yang bisa membuka cakrawala berpikir tentang banyak hal serta mengambil hikmah saat bercerita dengan orang yang tidak kita kenal. Karena berpergian adalah satu dari tiga cara untuk memandang dunia dengan cara berbeda. Dua lainnya adalah dengan membaca dan berdiskusi. Jujur, ini bukan paragraf untuk ngeles ala jomblo. Serius bukan. HAHAHA!!!

Dan itu yang terjadi dengan gue. Saat sedang duduk termangu sambil mengamati lalu lalang di dalam kereta yang tak kunjung bergerak, salah seorang bapak-bapak yang duduk persis di sebelah gue, mencoba menyapa

Dik, bapak kamu cowo ya”

Saya ga punya bapak. Saya lahir dari proses fermentasi singkong

“Oh pantes bau kamu mirip tape”

“Jangkrik”

Bapak tersebut menyapa ramah dengan menanyakan tujuan gue. Lalu beliau berangsur bertanya tentang pengalaman kerja, pengalaman organisasi, alasan keluar dari perusahaan sebelumnya, dan minta gaji berapa.

Tersangka
Tersangka

Setelah sedikit berbasa-basi, sang bapak bercerita jika ia tengah dalam perjalanan pulang menuju tangerang dengan ditemani sang istri. Beruntungnya saat itu commuter line tidak memutar lagu india. Gue khawatir bapak dan ibu tersebut spontan joget mengingat posisi duduk mereka yang berhadap-hadapan dan dekat dengan tiang penyanggah.

Entah kenapa, melihat dua orang yang sudah cukup sepuh berjalan berdua meninggalkan kesan romantis tersendiri. Bayangan mereka mampu meluluh-lantakkan ekspresi cerita percintaan basi yang sering gue baca di novel atau gue lihat di sinema.

Gue penasaran dengan cerita cinta yang awet dari kedua orang tersebut. Lalu tanpa sungkan, si bapak yang asli kota padang pariaman pun bernostalgia. Ia berujar bahwa pertemuannya dengan sang istri terjadi di pasar. Saat itu, si bapak muda tengah berdagang. Lalu entah bagaimana, ada seorang wanita muda yang mengendarai lamborghini aventador tiba-tiba melaju dengan cepat dan nyaris menabrak dagangan si bapak. Awalnya mereka bertengkar mulut, tapi lama kelamaan si wanita kaya jatuh cinta dengan sang pemuda. Lalu akhirnya mereka menikah. Tamat!

Klise? Iya. FTV Freak!!. 

Mungkin kisah mereka tidak seromantis Lulu Tobing saat pertama kali bertemu Ari Wibowo, namun waktu yang mampu mengukur betapa cinta itu tidak hanya dinilai dari indahnya saat pandangan pertama. Ia justru dapat diwujudkan dari berapa lama ia bertahan dari berbagai terpaan dan godaan. Si bapak dan istri berhasil membuktikan dengan durasi pernikahan selama 46 tahun dan dikaruniai 6 anak dan 15 orang cucu.

So sweet

Di tengah waktu senjanya, gue masih melihat romansa yang mampu menggetarkan hati. Mereka sesekali bercanda layaknya remaja, mengenang masa muda. Ahh, pancaran cinta mereka pun mampu beresonansi dan membuat gue ikut larut dalam kebahagiaan yang jelas terlihat dari senyum simpul si ibu saat suaminya bercerita lucu.

Gue yang terbawa suasana tiba-tiba nyeletuk

 “Pak, Pacaran jangan di sini!!!”

Bapaknya jawab

“Ngiri aja lo, mblo (jomblo)” *nangis darah*

Saat turun dari kereta, keperkasaan si bapak kembali terpancar. Dengan lembut ia menuntun tangan istrinya menuruni kereta menuju peron guna transit di Stasiun manggarai untuk kemudian melanjutkan kereta berbeda menuju tangerang.

Mereka berjalan beriringan menyusuri stasiun. Gerbong kereta begitu kaku hingga tak bisa menjerit untuk ikut terharu menyaksikan kebahagiaan yang tampak dari senyum terkembang kedua lansia tersebut.

Mata gue tak lepas memandang ke arah mereka. Sesekali gue teringat dengan orang tua di rumah. Selang sepersekian detik, imajinasi gue berkhayal sekaligus berharap kisah cinta gue kelak mampu sekokoh itu.

***

Menurut gue, begitulah gambaran kisah percintaan sejati. Kisah cinta kakek-nenek ini sudah tersertifikasi, halal, ISO, SNI bahkan sudah diuji di ITB dan IPB. Coba bandingkan dengan romeo-juliet. Siapa yang tahu akan seperti apa kisahnya jika mereka berdua masih hidup. Tak ada jaminan romeo tidak tergoda dengan wanita lain. Dan tak ada yang menduga jika misalkan juliet, saat memasuki usia 40 tahun, kembali puber dan jatuh cinta lagi pada personel boyband.

Tak perlu menjadikan romeo-juliet sebagai simbol dalam mencintai seseorang. Sebenar-benarnya cinta tidak mesti berakhir tragis. Lihat saja kisah cinta ibu-bapak atau kakek-nenek kita. Cukup mereka yang kita jadikan contoh. Setelah berpuluh-puluh tahun menikah, cinta mereka ke pasangannya tak pernah pudar, hanya perlahan meluruh termakan oleh saraf yang tak lagi mampu menyimpan kenangan dengan sempurna.

Walau kerut di wajah tak bisa tertutupi, cinta tersebut tetap menyala. Karena mereka yakin, saat menikah adalah perwujudan komitmen untuk mencintai, selamanya. Usia hanyalah angka.

Dan yang Jauh lebih dahsyat daripada itu semua adalah cinta yang berbuah surga.

Gue sangat berterima kasih kepada bapak dan ibu gue di rumah yang telah mengajarkan secara tulus makna sebuah cinta dan kasih. Karena dengan menyaksikan keawetan hubungan yang terikat dalam sebuah pernikahan memberikan gue makna cinta yang benar-benar tak lekang oleh waktu. Jauh melampaui tragedi yang menimpa romeo dan juliet.

Sumber Gambar

Gambar romeo juliet dari sini
Gambar kakek-nenek dari kamera hape gue

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

2 thoughts on “Bukan Romeo dan Juliet”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s