Antara Jawa dan Minang

Belakangan ini gue lagi seneng-senengnya baca buku bertemakan sejarah. Kemana-mana gue bareng dia. Gue ajak dia nonton, candle-light diner, poto bareng sampe akhirnya gue kenalin dia ke orang tua gue. Duh jomblo. Miris banget sih lo!.

Semua berawal saat negara api menyerang saat gue membeli buku Sejarah Tuhan-nya Karen Armstrong dan Api Sejarah milik Ahmad Mansur Suryanegara. Gue udah dari lama ngebet banget punya dua judul buku itu. Apa daya, saat itu gue takut buku bertemakan sejarah hanya menjadi bahan bakar buat api unggun pas perayaan malem tahun baru. Pengalaman yang sudah-sudah, beberapa buku bertemakan sejarah nyaris ga gue sentuh. Bukan, bukan karena mereka non-mahram gue.

Sebut saja buku tentang Kartosoewiryo, Nietschze, dan umm.. Gue kesulitan menyebutkan buku sejarah apa lagi yang gue punya. Oh iya, buku tentang sejarah cuma dua itu doang. Sisanya buku sejarah bekas sekolah dulu. Gue membutuhkan waktu lama untuk mencerna buku-buku sejarah. Mereka terlalu berat untuk otak gue yang ga lebih gede dari otak semut hidrosefalus. I feel like doom reading historical books. 

Ketidaksukaan gue terhadap sejarah adalah buah dari pelajaran yang gue peroleh selama sekolah. Jam pelajaran sejarah adalah saat dimana lo bisa dininabobokan oleh guru yg terus terusan berceloteh

Sejarah itu pelajaran yang menakutkan. Materi pertama aja gue udah disodorin pengetahuan tentang monyet sebagai nenek moyang manusia. Gosh!. Teori yang gagal menurut gue. Mana mungkin monyet bisa berevolusi jadi makhluk secakep Raline Shah. Terus ntar Raline Shah berevolusi jadi apa/siapa?

Raline Shah hasil evolusi kera?
Raline Shah hasil evolusi kera?

Pernah salah seorang guru sejarah gue menerapkan “metoda prasasti”. Beliau (alm) menjabarkan sejarah dengan sangat detail di atas artefak papan tulis hitam kami. Gue hanya bisa menganga, takjub dengan memori sang guru yang bahkan tahu secara detail kapan Hayam Wuruk PDKT sama istrinya.  Dan saat itu, kami berasa seorang arkeolog demi mentranslasi huruf-huruf paleograph yang ditulis ulang oleh guru sejarah tersebut.

Sejarah sendiri diambil dari bahasa arab “syajarotun” yang berarti pohon. Artinya sejarah dianalogikan seperti pohon yang memiliki cabang dan ranting, memiliki bibit dan kemudian tumbuh dan berkembang. Sementara sejarah dalam bahasa inggris disebut dengan “history” yang berasal dari bahasa Yunani, istoria yang berarti ilmu. (Samsul Munir Amin).

****

Tentang Sejarah Tuhan, gue memang berniat membeli buku ini bahkan sejak Nobita belum ketemu Doraemon. Gue penasaran sebenernya ada rahasia apa di balik makna “Tuhan”. Sejak kapan manusia mengenal terminologi tuhan dipandang dari sejarah perkembangannya.

Walhasil seperti prediksi, gue kesulitan menerjemahkan tulisan Karen Armstrong walau buku tersebut sudah khatam dibaca,  gue masih berharap bisa mengerti Karen cerita tentang apaan. Karen bener-bener ga ngertiin akooh.

Buku kedua yang membangkitkan minat sejarah gue adalah “Api Sejarah”. Api Sejarah adalah buku yang mengupas tentang penyelewengan dokumentasi sejarah Indonesia dari masa kerajaan hingga masa penjajahan. Buku yang terbagi menjadi dua jilid ini menggambarkan wajah lain dari sejarah Indonesia yang sangat berbeda dari bekal ilmu sejarah yang kita peroleh selama pendidikan di sekolah dulu.

Oke, lupakan tentang penyelewengan sejarah yang ada di kurikulum pendidikan kita. Gue ingin menyoroti hal lain.

Jika kalian membaca buku Api Sejarah, kalian akan semakin menyadari betapa hebatnya perjuangan rakyat Indonesia untuk melepaskan diri dari cengkraman penjajah. Perjuangan yang tak kenal lelah. Memang benar jika ada yang berucap bahwa sejarah perjuangan suatu bangsa/negara itu atas hitam tinta para ulama dan merah darah para syuhada.

Hebatnya perjuangan mereka dimulai sejak era kerajaan masih tumbuh subur. Sejak dulu, sentra perjuangan rakyat Indonesia terpusat di pulau jawa. Keadaan kemudian berubah. Memasuki fasa perjuangan kemerdekaan sejak rakyat mulai menyadari pentingnya bersatu. Tanpa mengabaikan daerah lain, Para tokoh besar perjuangan bangsa ini mengerucut pada dua suku/daerah yakni jawa dan padang (minang).

Gue ga bisa menutupi kekaguman terhadap orang jawa dan padang sebagai bagian terintegrasi dari kemerdekaan Indonesia. Di sini gue ga berniat untuk menonjolkan aspek kesukuan atau chauvinisme. Gue juga bukan berasal dari suku keduanya. Ini sebatas opini dan kekaguman gue pada dua daerah pencetak tokoh bangsa.

Pada banyak hal kita seolah bisa “mengadu” antara tokoh-tokoh asal jawa dan minang. Sendi-sendi perjuangan indonesia juga berasal dari tokoh asal kedua suku ini yang memainkan peranan yang sentral dan menunjukkan “rivalitas”. Lo bisa, gue juga!.

Kita tidak akan pernah bisa menyebut sejarah perjuangan negeri ini tanpa melibatkan tokoh keturunan jawa. Sejarah nusantara tidak pernah terlepas dari sini. Tengok saja betapa sejarah selalu mengagungkan kerajaan majapahit dengan rajanya Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Borobudur, Prambanan sebagai warisan budaya juga merupakan peninggalan jawa.

Beralih ke masa perjuangan modern, saat rakyat Indonesia mulai menyadari pentingnya bersatu. Perjuangan kemerdekaan masih berkisar di sekitar orang jawa. Organisasi kebangkitan berakar dari rakyat jawa mulai dari Sarikat Islam, Budi Utomo, hingga Muhammadiyah dan Nahdathul Ulama.

Pesantren sebagai sekolah bagi para pribumi maupun sekolah bagi para bangsawan juga banyak berada di jawa. Dari pesantren lah lahir ulama-ulama hebat yang kemudian membangkitkan semangat perjuangan. Namun orang minang tidak mau ketinggalan dalam memainkan perannya untuk mengusir penjajah. Banyak tokoh hebat yang jua lahir di sini.

Dan pada akhirnya, kolaborasi jawa-minang lah yang memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Soekarno yang seorang jawa, orator ulung, berapi-api disandingkan dengan Hatta, seorang minang yang lebih kalem, diplomatis dan cerdas. Namun meskipun berbeda dalam banyak hal termasuk dalam pandangan tentang bentuk negara, kedua insan ini tetap dicap sebagai dwitunggal yang bersatu untuk menyuarakan anti penindasan. Walau pada akhirnya Hatta mundur dari jabatannya pada tahun 1956 karena banyaknya perbedaan pendapat dengan sang presiden.

tan malakaKita juga mengenal sosok Ibrahim Tan Malaka. Sosok kontroversial yang memiliki ideologi yang dianggap “bersebrangan” dengan Soekarno. Pernah suatu ketika tak lama dari proklamasi kemerdekaan, terdapat tiga poros dalam menghadapi politik pecah-belah belanda. Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir Syarifuddin, dan Soedirman-Tan Malaka. Ketiga poros tersebut adalah pertemuan jawa-padang kecuali Amir Syarifuddin yang merupakan seorang batak.

Jangan lupakan juga pergerakan ulama yang memimpin perang. Dari padang kita mengenal Muhammad Shahab (Imam Bonjol) yang memimpin perang padri. Tak berselisih waktu cukup jauh, di jogjakarta juga lahir seorang ulama yang memimpin perang Diponegoro, Sang Pangerang Diponegoro.

Kedua sosok ini memiliki penggambaran yang persis yang sering kita lihat di foto-foto. Keduanya mengenakan sorban layaknya ulama dan memiliki sorot mata tajam dengan perawakan gagah.

Keduanya memimpin perang dengan durasi waktu yang cukup lama. Perang Padri berlansung selama 35 tahun sementara perang diponegoro lima tahun, meskipun begitu, perang diponegoro tercatat sebagai perang dengan korban paling banyak dalam sejarah indonesia.

Ada H.O.S Tjokroaminoto yang juga merupakan ketua pertama Sarikat Islam. Tjokroaminoto dikenal sebagai bapak para pemimpin besar indonesia. Sebut saja Tan malaka, Kartosuwiryo, hingga Soekarno pernah menjadi murid beliau. Tjokroaminoto yang adalah keturunan jawa digantikan oleh K.H Agus Salim selaku orang minang sebagai penerus beliau memimpin Sarikat Islam.

Untuk tokoh pergerakan perempuan, Putri minang dan jawa kembali “bersaing”. Jawa memiliki kartini dengan idealismenya memperjuangkan prinsip egaliter bagi perempuan.

Kartini sangat terkenal dengan emansipasinya.  Sementara dari tanah minang lahirlah seorang Rasuna Said yang juga berjuang demi persamaan hak antara wanita dan pria. Kini nama “Rasuna Said” digunakan di jalan arteri Jakarta.

****

Minang dan Jawa juga terkenal dengan para ulama. Kita sangat mengakrabi Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan Buya Hamka. Mantan Ketua MUI pertama ini memiliki pemahaman keagamaan yang sangat luas dan moderat. Selain itu ada tokoh ulama seperti Muhammad Natsir serta Agus Salim. Keduanya berasal dari ranah minang.

Sosok Muhammad Natsir mungkin tidak setenar Buya Hamka, namun beliau adalah ulama besar pendiri sekaligus pemimpin partai politik masyumi. Beliau juga pernah menjabat sebagai perdana menteri indonesia dan juga pernah menjabat sebagai presiden liga muslim se-dunia dan ketua dewan mesjid se-dunia. Sebuah prestasi luar biasa dari putra minang.

Dari jawa kita mengenal banyak ulama hebat. Yang paling terkenal saya rasa adalah K.H Hasyim Asyari dan K.H Ahmad Dahlan. Dua tokoh yang masing-masing mendirikan organisasi massa islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah.

“Rivalitas” antara jawa-minang diperkuat dengan penunjukkan Ibukota indonesia di dua ranah tersebut pada suatu periode setelah masa kemerdekaan Indonesia. Jawa terwakili oleh jogjakarta dan Minang oleh bukittingi.

Ibukota Indonesia pernah berada di jogjakarta kala kemerdekaan baru seumur jagung. Saat itu Sultan Hamengkubuwono IX menawarkan pemindahan ibukota negara dari Jakarta ke Jogjakarta karena situasi yang sangat tidak kondusif. Selama setahun ibukota Indonesia berpindah ke Jogjakarta.

Pada masa pemerintahan darurat Republik Indonesia (PDRI), ibukota negara Indonesia dipindahkan ke bukit tinggi mulai dari Desember 1948 hingga Juli 1949, lebih kurang enam bulan. Pemerintah darurat ini diadakan karena pada saat itu Belanda menangkap Soekarno-Hatta sehingga dibutuhkan pemerintah darurat untuk menjaga keutuhan negara.

Demikianlah sengitnya tandem Jawa-Minang dalam pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia maupun sumbangsih mereka atas ide dan karya besarnya. “Pertarungan” tersebut dilanjutkan oleh Warung tegal sebagai simbol warung jawa dan Warung Padang perlambang minang.

Sumber Gambar

Gambar Raline Shah dari sini
Gambar Tan Malaka dari sini

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

13 thoughts on “Antara Jawa dan Minang”

    1. kalau lebih diteliti lagi cut nyak dien itu masih ada kok sebahagian darahnya yang berasal dari minang dan sebahagian lagi dari aceh

    2. Cut nyak dien beretnis setengah aneeuk jamee yang merupakan migran orang pesisir minangkabau yang bermigrasi saat kesultanan aceh menaklukan tiku dan pariaman.

  1. Betul sekali opini Anda. Masih ada beberapa tokoh lagi yg tidak disebut, di antaranya Mohammad Yamin, pelopor Sumpah Pemuda 1928. Sementara K.H Hasyim Asyari dan K.H Ahmad Dahlan adalah murid dari Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Imam Besar Masjidil Haram Mekah pertama yg bukan Arab. Tentang Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar, keduanya masih berdarah Minang.

    Cuma sayang sejak peristiwa PRRI orang Minang seperti didiskriminasi. Sebenarnya mereka hendak meluruskan jalannya negara yg sudah mulai condong ke arah komunis, namun mereka dicap memberontak dan dalam tempo yg cukup lama selalu dicurigai sehingga perannya dibatasi.

    Saya yakin di abad globalisasi ini kolaborasi Jawa-Minang diperlukan lagi utk meraih peran besar di tingkat dunia. Jawa dengan ketenangan dan keuletannya serta Minang dengan kecerdikan dan dinamismenya sangat diperlukan utk “Kemerdekaan Indonesia II” yg membebaskan Indonesia dari penjajahan modern.

    1. kalo mau membenarkan seharusnya tidak dengan makar..pemerintahan terpimpin itu terjadi karena kegagalan pemerintahan parlementer yg didominasi urang awak. nyatanya selama pemerintahan parlementer indonesia tidak bisa membebaskan irian barat dan terjadi inflasi akibat jatuh bangun kabinet ala politik niniak mamak seperti di nagari awak… indonesia luas dengan karakter mayoritasnya adalah terpimpin, tak semuanya bisa menerima egaliter ala minang dan pada akhirnya indonesia bukan negara islam tak bisa disamakan dengan malaysia,, namun sukarno ternyata juga gagal menjalankan demokrasi terpimpin, soeharto naik jadi presiden dengan tujuan yg sama seperti urang awak yaitu anti komunis.. tapi urang awak telah berdosa kepada negara ini, negara yg dilahirkan bersama kini ia rusak dengan makar..maka terimalah akibat dari kecerobohan itu. soeharto memimpin dengan lebih otoriter dan mengkerdilkan minang karena kewaspadaan terhadap makar itu tidak salah pada masanya..soeharto pun turun dan kini urang awak diberikan kewenangan memimpin daerahnya..

      kalo urang awak mau memimpin indonesia, atau setidaknya kembali mendapatkan pengaruh minang…sebaiknya tinggalkan sifat chauvinisme dan tingkatkan rasa nasionalisme…. saya melihat urang awak ini sangat chauvin, urang awak lebih memilih malaysia yg minang daripada indonesia yg jawa…

      apapun yg urang awak lakukan terhadap negara ini akan dibalas oleh negara dengan setimpal. kalian melahirkan bangsa ini bersama dengan suku2 yg lain, tapi setelah bangsa ini lahir kalian tidak bisa begitu saja mengganggunya karena negara ini adalah milik bersama.

  2. semoga ada penggalian sejarah yang lebih dalam lagi..terima kasih buat penulis yang sudah memberikan pandangan yang obyektif…seandainya masih tertarik untuk menelusuri buku tambo minang dan dipadukan dengan ulasan borobudur karya fahmi basya..mungkin bisa ada kelanjutan yang seru tentang jawa minang ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s