One Day One Juz

Desember 18, 2013 § Tinggalkan komentar

IMG-20131217-WA0000[1]

Elegi hanzalah yang berteriak kencang hingga terdengar Abu Bakar adalah kisah yang sudah berulang kali kita dengar. “Hanzalah telah munafik, hanzalah telah munafik, hanzalah telah munafik”. Berulang kali ia berucap hal yang sama. Riak ketakutan terpancar dari rona wajahnya, Bias sendu menghiasi harinya yang seolah menjadi bencana.

Seketika kegundahan hati Hanzalah terdengar oleh Abu Bakar yang lantas bertanya “ada apakah gerangan wahai Hanzalah”.

Sambil bersedih hati Hanzalah menjawab “wahai Abu Bakar, aku merasa menjadi orang yang sangat munafik. Ketika aku membersamai Rasulullah, iman ini membuncah. Berada pada titik tertingginya. Surga dan neraka bak di depan mata. Tapi kemudian, ketika keluar dari majelis ilmu dan terpisah jarak dengan Rasul, aku kembali alpa. Semua bayangan kengerian neraka atau kenikmatan surga lenyap begitu saja”.

“Hanzalah, sesungguhnya apa yang kau rasakan juga dirasakan oleh kami”. Abu Bakar mencoba menenangkan

Iya, seperti itulah iman. Ia sifatnya saatan saatan, sesaat sesaat. Kondisinya selalu naik turun. Parahnya ia tidak berupa roller coaster yang jelas juntrungan kapan naik dan kapan merangsek turun. Ndilalah iman bisa naik setelah jatuh terjerembab, bisa jadi ia tersungkur semakin dalam ke dalam jurang dosa.

Iman yang naik berkorelasi pada ekskalasi ibadah, yang wajib semakin lancar dan yang sunah pun tak lupa. Kondisi berkebalikan terjadi pada saat ia berada di titik nadir. Ibadah sekenanya saja guna menggugurkan kewajiban. Itulah mengapa pentingnya kita berkumpul di dalam majelis ilmu. Berkumpul dengan orang-orang yang bisa saling menyentil perilaku keimanan kita sehingga ada yang meraih tangan kita saat mulai tertatih.

Belakangan ini, santer terdengar wacana One Day One Juz di beberapa grup whatsapp yang gue ikuti. One Day One Juz (ODOJ) adalah sebuah langkah progresif untuk memanfaatkan teknologi komunikasi sebagai sarana pengingat dan penjaga nilai kebaikan. Ia diretas agar bermanfaat bagi setiap orang yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan memanfaatkan grup whatsapp yang difungsikan sebagai kontrol bacaan Al Quran satu juz selama 24 jam yang digilirkan secara berurutan bagi para penghuni grup tersebut.

Berangkat dari namanya, kita bisa menebak bahwa One Day One Juz adalah sebuah gerakan untuk mengembalikan semangat muslim agar kembali mendekatkan diri kepada Al Quran sebagai pedoman kehidupan. Quran yang turun lebih dari 14 abad yang lalu adalah warisan terbesar yang kini menjadi ikon “kesucian”. Ia suci hingga banyak orang menempatkannya pada tempat tertinggi di lemari-lemari rumah. Disimpan, diletakkan hingga tak pernah tersentuh.

Kini, dengan adanya program One Day One Juz, setiap orang bisa termotivasi untuk kembali bertafakur dengan Quran. Al quran tidak lagi terbatas pada mushaf fisik. Ia dengan mudah bisa diperoleh di berbagai aplikasi untuk ponsel pintar. Jadi, tidak ada lagi alasan ribet bawa mushaf kemana-mana.

Ternyata satu juz sehari itu mudah. Ia tidak lebih lama dari sekedar menyaksikan satu episode dorama korea, tidak lebih melelahkan atas berburu baju diskon di mall-mall dan tidak lebih rumit dari membaca kolom berita New York Times atau Bloomberg. Selama ini kita sendiri yang membatasi diri kita untuk mengerdilkan semangat membaca quran padahal ia rata-rata hanya berjumlah sepuluh lembar.

Ternyata satu juz sehari itu tidak sulit. Kita bisa memanfaatkan waktu-waktu kosong untuk membaca Quran. Setelah sholat, saat berdiri di commuter line, sembari menunggu hasil sentrifuga di lab dan di sela aktifitas lainnya.

Membaca Quran bukan masalah kemampuan melainkan kemauan. Saya pribadi menyadari bahwa selama ini banyak waktu yang terbuang dengan percuma. Namun dengan membiasakan diri membaca Quran Satu juz sehari, waktu kita akan jauh lebih bermanfaat daripada grumbling atau umbar pandangan di tengah kemacetan.

Dengan ODOJ, setidaknya iman kita jauh lebih stabil pada domain-domain kebaikan dan ibadah hingga mencegah kita berlama-lama untuk melakukan hal yang kurang bermanfaat.

Gue kembali teringat ungkapan dari Ryosunuke Satoro bahwa sendiri kita hanya setitik air, bersama kita adalah gelombang samudra. Semoga dengan adanya kelompok kecil One Day One Juz, kita bisa kembali melekatkan diri pada Al Quran.

Maka kita diminta untuk berfastabiqul khairat, berlomba dalam kebaikan seperti apa yang termaktub dalam Q.S Al baqoroh : 148.

Gue pribadi sempat tidak percaya diri dengan tantangan satu juz satu hari. Selama ini capaian tersebut hanya teraih saat Ramadhan. Lepas kemudian, tilawah Al-Quran mengalami kemunduran, nisbi. Namun ternyata dengan program berkelompok, target tersebut lebih mudah dilakukan. Interaksi dengan Quran juga yang mampu menjaga kita dari perbuatan tercela.

Kini gerakan ODOJ sudah santer terdengar di mana mana. Ia tidak hanya menjamah aktifis dakwah atau orang biasa namun sudah mewarnai artis seperti Teuku Wisnu. Hebatnya, aktor satu ini tidak pernah absen menyelesaikan target satu juz dalam sehari. Jadi, tunggu apa lagi? Mari bergabung!.

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading One Day One Juz at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: