Pendakian Gunung Prau, 2565 MDPL

Desember 5, 2013 § 5 Komentar

“Perjalanan ini terasa biasa, tidak semegah yang dulu pernah kuraih dengan peluh merekah. Tapi keberadaan kalian yang membuat ia berbeda”.

Punggung ini terasa berat. Lebih dari biasanya. Beberapa pasang pakaian serta perlengkapan mendaki telah memenuhi tas gunung yang bertengger manis di pundak gue. Memang, pengalaman seharusnya mengajarkan kepada kearifan. Mendaki gunung bukan sekedar aksi pamer kegagahan membawa keril, bergema hebat mengaku backpacker atau pencinta alam. Ia adalah nafas dari kepatutan untuk lebih mendekatkan diri, menyaksikan kedahsyatan sang khalik di saat gemerlap kota sudah kehilangan hakikat kesyahduannya, ditutupi oleh deru mesin dan gedung-gedung yang mencoba meraih langit.

Gue mengayuh langkah ini lebih cepat demi menggapai bus yang hendak membawa kami menuju Terminal Wonosobo. Ya, kami terlambat. Kami terpaksa memperlambat diri untuk meninggalkan Jakarta karena beberapa peserta pendakian bertaruh dengan waktu keberangkatan. Mungkin mereka terbiasa dengan gol-gol saat injury time hingga menjadikannya sebagai metafora.

“Satu orang tertinggal” teriak Sandra.

Kami pun berada di persimpangan. Menanti ia yang tak kunjung datang dengan resiko menerima ocehan para penumpang bus lainnya atau meninggalkan teman yang mungkin melabeli kami dengan cap mengubur solidaritas. Ah, life is simple. You make a choice and don’t look back. Begitu Han berujar dalam Fast Furious.

Ok, semua mufakat untuk tidak menunggu lebih lama. Ia yang tertinggal, semoga masih bisa memanfaatkan kendaraan lain. IMG-20131117-WA0030[1]

Perjalanan dengan bus bukanlah sebuah pilihan bijak. Ia harus bersaing dengan kendaraan besi lain demi melalui jalan beraspal. Beradu deru dengan bus-bus sejenis yang tak mau kalah dalam laju. Mereka terinspirasi film adu kebut di bioskop yang mereka tonton. Namun, durasi yang mengekang ternyata menghadirkan ruang untuk membangun keakraban yang mungkin berakhir pada sebuah peradaban. Siapa tahu?

“Wawam, dia sangat mengerti sejarah. Memahami seluk beluk sejarah Indonesia. Bercerita Negara kertagama seolah ia adalah pelakunya”. Achmad berseloroh memecah kebekuan malam. “Salah seorang dari grup yang akan berjalan malam ini adalah pencinta sejarah Indonesia. Ia salah satu partisipan kenduri cinta-nya Emha Ainun Nadjib”. Achmad menambahkan dengan bersemangat.

Namanya Wawam. Pria jangkung asli Tegal ini bisa bercerita sejarah dari A-Z. Dari asal muasal peradaban hingga perjuangan kemerdekaan. Entah batere apa yang wawam gunakan. Saat berkisah tentang sejarah, matanya berapi-api, lidahnya menjulur sambil berliur. Dia begitu semangat jika membahas hal berbau sejarah. Wawam bisa bercerita tentang sejarah Jaka Tingkir, Ki Santang, hingga Kera Sakti. MNC seharusnya merekrut wawam sebagai tim penasihat.

Rombongan kami terpisah menjadi 4 kelompok keberangkatan. Gue dan sekitar 10 orang lain memilih bus. 1 orang yang tertinggal juga akihrnya menggunakan bus sejenis dengan jam keberangkatan berselisih beberapa menit dari bus yang kami tumpangi -sialnya dia tiba lebih dulu-, mereka yang memilih kereta dari bekasi-Jakarta dan seorang yang naik bus dari Bandung. Total rombongan kami adalah kurang-lebih 16 orang.

Jam 8 pagi. Setelah lebih dari 12 jam perjalanan dan kenyang oleh kuliah sejarah, rombongan kami tiba di Terminal Wonosobo. Tujuan kami adalah mendapatkan puncak Gunung Prau yang berlokasi di sekitar Dieng, Jawa Tengah.

IMG-20131119-WA0011[1]

Pemandangan di sekitar dieng sungguh khidmat. Ketenangan, keramahan dibalut dengan suasana sejuk dari daerah yang terletak di dataran tinggi menjadikan ia sebagai pesona lain dari keelokan negeri Indonesia. Sebelum melangkah mendaki Gunung Prau, rombongan kami terlebih dahulu menikmati makanan khas dieng. Mereka menyebutnya “Mie Ongklok”, Sejenis mie ayam namun dengan kuah yang lebih kental (sepertinya terbuat dari campuran terigu/sagu). Nikmatnya menyantap mie ongklok dengan hamparan hijaunya sawah dan dinginnya iklim Dieng.

Selesai mencicipi mie ongklok, perjalanan kami dibuka dengan mengeksplorasi wisata alam di kawah sikidang dan Candi Arjuna. Kawah Sikidang berada di kaki gunung prau. Ia berupa kawah belerang dengan ukuran mini dengan diameter sekitar 5-6 meter.

Ada yang tak bisa hilang dari kenangan, itu adalah rasa. Untuk mampu membangkitkan rasa yang tersimpan dalam fragmen memori, kita memerlukan gambar, suara, dan aroma. Karenanya, banyak orang yang memilih mengabadikan setiap peristiwa dalam jepretan kamera. Hal serupa yang kami lakukan di kawah sikidang. Yaelah, Mau narsis aja ribet banget pake penjelasan segala.

IMG-20131119-WA0006[1]

DSCN1016[1]

Puas menciumi bau belerang yang diiringi perkusi khas jawa, perjalanan kami lanjutkan menuju Kompleks Percandian Arjuna yang lokasinya tak berjauhan. Dari namanya kita bisa menebak bahwa candi ini adalah peninggalan Bangsa Hindu. Weits… ilmu sejarah Wawam sedikit banyak tersimpan dalam subliminal otak gue.

Kompleks percandian arjuna terdiri dari beberapa candi seperti Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan lainnya. Candi tersebut tidaklah semegah Borobudur atau menyejarah seperti Prambanan namun tetap saja setiap candi berkisah tentang legenda yang tertuang pada relief di permukaannya.

Lalu tiba-tiba Wawam bercerita tentang kisah salah satu relief pada candi srikandi. Relief tersebut adalah penampakan dari Dewi Srikandi itu sendiri. “Dewi Srikandi adalah salah seorang Dewi yang termuat dalam kisah Mahabarata. Ia adalah istrinya Arjuna”. Kami pun hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, ekspresi menyetujui apa yang dijelaskan Wawam.

IMG-20131119-WA0020[1]

Puas bermain-main di seputaran Candi, kami pun memulai pendakian Gunung Prau. Gunung dengan ketinggian 2565 MDPL ini mungkin tidak terlalu tinggi dan rumit bagi para penikmat tantangan, namun kita tetap bisa menikmati setiap tapak yang dilalui.

Tidak sampai tiga jam pendakian, kami sudah tiba di pos perhentian terakhir. Kami membangun lima tenda di balik bukit. Berjalan sedikit ke atas, Prau menyajikan pemandangan kota yang ditutupi oleh awan. Perpaduan antara hijaunya desa dan putihnya mega bersimbiosis menyajikan penggalan kecil surga.

Suhu di sekitaran tenda semakin dingin. Penunjuk suhu yang terintegrasi dengan kompas menunjukkan angka 10ºC. Selesai makan malam dan solat berjamaah, para photo-hunter memilih untuk memenuhi memori kamera mereka dengan pemandangan kota di malam hari. Sebagian lain memilih untuk bercengkrama di dalam tenda sambil menghangatkan diri dan ada yang mencoba mengamati langit, memandang bintang yang berkilau nun jauh di entah galaksi mana. Gue pun terngiang tentang sahabat yang berkisah bahwa cahaya bintang yang kita liat sekarang adalah hasil perjalanan ia ribuan bahkan jutaan tahun yang lalu.

“Bintangnya indah, bertakhta di pucuk mega” ujarmu saat itu. “betapapun luas lautan membentang. Daratan yang memisahkan. Namun bintang yang kita pandang tetaplah sama. Ia tak berorientasi pada posisi”. Memori gue tersentil oleh ucapanmu.

Lalu kali ini kita mengulang diskusi serupa.

“kamu lihat bintang disana?”. Gue bertanya
“iya, memangnya kenapa?” kau mencoba menjawab dengan datar
“Kamu tahu, bintang itu sama seperti kita. Ia lahir dari energi fusi. Dan ia juga bisa mati”
“Oh benarkah?” kau bertanya dengan penuh keraguan
“iya simi, masa kamu ga percaya aku. Dasar simsimi”!!!!

Laju angin di lokasi kami menginap cukup kencang. Tenda-tenda kami terasa bergoyang. Akhirnya bukan mobil saja yang bisa lekat dengan terminologi “goyang”. Untungnya angin tak sampai merobohkan tenda hunian kami.

Di tengah keheningan malam, saat rerumputan saling beradu dan menghasilkan nada tak beraturan, mata gue yang telah terpejam beberapa saat kembali terbuka. Gue mendengar suara teriakan minta tolong dan napas yang terengah. Otak gue langsung berfantasi “apa iya ada kuntilanak yang sedang lomba lari malam-malam begini”.

Lambat, gue coba amati lagi suara gaduh tersebut. “Cepat bawa dia. Dia udah kedinginan”. Kira-kira seperti itu diksi yang meluncur dari kegaduhan. Ternyata salah seorang dari teman kami yang turut serta berfoto ria tengah kambuh penyakit asmanya. Awalnya dia tak dapat bernapas dengan baik, setelah ke klinik tong sam cong, ia  bisa bernafas lagi dengan sempurna. Ngaco aja lo!.

Setelah menggunakan tabung oksigen, teman kami akhirnya sehat kembali. Alhamdulillah.

Pagi hari di gunung prau ditutupi oleh kabut yang cukup tebal. Kami pun tetap keluar tenda dan berjalan beberapa ratus meter ke arah timur demi memperoleh keindahan matahari terbit. Salah satu spot untuk mengabadaikan momen-momen yang berkesan itu menjadi saksi betapa indahnya matahari muncul dari tempat ini.

20131117_051636[1]

20131117_051028[1]

Pagi bersama matahari terbit di prau pun usai. Kami sadar bahwa mentari tak pernah padam, setidaknya tidak untuk saat ini. Ia hanya berputar, berganti posisi. Dipergilirkan cahayanya ke semua penjuru bumi.

Beberapa orang pun masak untuk sarapan setibanya di tenda. Kami dimanja dengan menu sarapan oleh koki-koki handal ini. Gue ga nyangka bisa menikmati puding dari atas prau, makanan yang tidak sering gue temui dalam kehidupan sehari-hari. Kalo gini keadannya, gue pengen tinggal di gunung untuk beberapa hari lagi. Soalnya nutrisi akan jauh lebih terjamin daripada menu masakan padang-warteg-bubur ayam/pecel.

Sembari beberapa orang masak untuk sarapan, Wawam tetiba kembali berseloroh tentang sejarah. Ia memberikan kuliah di salah satu tenda. Gue lupa, berapa sks yang sudah kami peroleh. Yang jelas, bekal sejarah yang diberikan wawam sudah cukup untuk kami sampaikan pada anak cucu hingga tiga generasi ke depan. Salah satu yang paling berkesan adalah saat ia menyampaikan bahwa gunung adalah simbol ketauhidan. Ia mengerucut pada puncaknya, menggambarkan Keesaan sang Maha Pencipta.

IMG-20131117-WA0000[1]

Perlahan tapi pasti, peserta “ceramah” sejarah meninggalkan tenda. Ada yang pegang-pegang kepala, ada yang mual. Mereka berharmoni, berucap “Gue mabok sejarah”.

Seusai sarapan dan beres-beres, rombongan kami pun turun dari prau melewati jalur yang berbeda dari pendakian. Jalur turun memang lebih pendek tapi tracknya lebih susah. Beberapa titik yang kami lalui hanyalah berupa jalan setapak yang berbatasan langsung dengan jurang.

Perjalanan turun kami dilengkapi dengan hujan yang turun mesra. Untungnya, basecamp sudah dekat saat hujan berjatuhan membasahi.

Di sepanjang jalan arah menuju basecamp, banyak penjual yang menjajakan Buah Carica. Sejenis pepaya yang hanya tumbuh di dataran tinggi Dieng. Menurut salah seorang penduduk sekitar, Buah Carica berasal dari biji Buah Pepaya yang tumbuh dengan kondisi tanah, temperatur dan kelembaban Dieng. Setibanya di basecamp, kami menyaksikan pertunjukan kuda lumping di alun-alun kepala desa.

Rentetan perjalanan mendaki Gunung Prau dan kawasan wisata lainnya berakhir ditandai dengan kedatangan bus yang akan membawa kami menuju Stasiun Purwokerto. Sebuah perjalanan yang seru. Karena hikmah bertafakur kepada alam adalah makna hakiki dari suatu perjalanan. Berkenalan dengan orang-orang baru, menambah wawasan sejarah adalah manfaat terpisah yang dapat memperkaya keilmuan.

Terimakasih teman untuk mentari terbit di atas Gunung Prau. Terimakasih atas pengalaman yang berharga dari atas Gunung Prau, 2565  MDPL.

Tagged: , , , , , ,

§ 5 Responses to Pendakian Gunung Prau, 2565 MDPL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pendakian Gunung Prau, 2565 MDPL at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: