Mengapa Saya Menulis

November 12, 2013 § Tinggalkan komentar

Beberapa hari yang lalu, gue kembali mendapati sebuah status di laman fanpage Tere Liye

Saya percaya, kalau belajar menulis hanya demi menerbitkan buku, laku, kaya, popular, difilmkan, apalagi sibuk menghitung view, like, komen, maka cepat atau lambat akan berakhir pada kekecewaan—bahkan mesti semuanya itu akhirnya tercapai. Kosong saja ketika sudah tiba di titik itu.

Menulislah karena itu menyenangkan, selalu menyenangkan.”

Tanpa terasa, persis oktober 2013 blog ini genap berusia 4 tahun. Menapaktilasi masa-masa yang telah dilalui, berkontemplasi tak jarang membuat kita menyadari banyak hal yang sudah berubah mengikuti alur waktu.

Ketika blog menyapa, gue menjadikan ia sebagai wahana yang tepat untuk menuangkan gagasan dan ide. Gue pengen bercerita, menuliskan apa pun yang gue suka. Karena menulis sejatinya adalah ekspresi dari kecerdasan berpikir. Orientasi yang lahir saat itu kongruen dengan egoisme pribadi. Apatis, tidak terlalu memperdulikan bagaimana respon para pembaca. Suka, silahkan lanjut membaca. Tidak suka, tinggalkan blog saya. Sesimpel itu.

Sengaja gue sertakan tulisan berisi guyonan, yang aneh dan garing, atas dasar kesadaran bahwa gue lemah dalam mendeskripsikan cerita. Tak mampu berceritera panjang lebar, membuat mulut-mulut menganga, menanti apa yang akan tertulis setelahnya.

Gue tidak terlalu memperdulikan jumlah pageview, page rank, siapa saja yang berkunjung, negara mana. Karena buat gue itu hanyalah efek. Itu bukan tujuan gue menulis. Gue menulis hanya berdasarkan kesukaan pribadi, passion atau apalah kalian menyebutnya.

Mencari popularitas adalah awal dari masalah. Jika melakukan sesuatu atas dasar popularitas, maka siap siaplah kecewa. Jadi orang mah biasa-biasa weh.” Pidi Baiq suatu ketika berceloteh.

Menurut beliau, saat emosi yang hadir dalam menulis lebih disebabkan oleh orang lain maka kita tidak akan menulis secara alami. Kita akan bertansformasi menjadi robot yang bergerak atas program yang disisipkan. Bertindak atas algoritma. Berpikir karena kita diminta berpikir. Kita akan menghasilkan karya yang dibuat-buat, demi memuaskan hasrat mereka yang di luar sana.

Tulisan yang hanya berorientasi pada apresiasi, menghamba pujian berupa “like” di facebook atau retweet di twitter, menyisakan ruang kekecewaan saat nihil pembaca yang melakukan apa yang kita harapkan.

4 tahun menulis, gue sengaja untuk tidak memberikan perhatian yang benar-benar serius. Tidak membuat domain khusus. Tidak bergabung dalam komunitas. Gue tidak percaya diri atau lebih tepatnya GUE SADAR DIRI. Merasa apa yang tertulis di blog ini tidak (belum) cukup menginspirasi, belum bisa memberikan pengetahuan dan informasi yang memadai bagi orang lain. Kenapa? Karena gue menulis berangkat dari kerangka berpikir “AKU” dengan segala kelemahannya.

Ini bukan bentuk kerendah-hati-an. Ini murni adalah ekspresi ketidaksiapan diri atas kritik yang mungkin hadir saat orang-orang membaca tulisan gue.

Perlahan, perspektif tersebut berubah. Walau tetap berpedoman pada menulis suka suka, gue sesekali membuat tulisan yang berisi inspirasi ataupun opini menggugat hegemoni kenormalan di strata kehidupan dewasa ini.

Gue menulis karena gue suka. Sambil berharap apa yang tertulis bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena apa yang tertulis akan abadi dan apa yang terucap akan menguap. Pun ketika suatu saat tidak ada lagi yang mengunjungi blog ini, saat ia mulai berdebu, gue akan menjadi orang yang paling setia untuk membacanya.

Tak perlu mengiba, menanti-nanti timbal balik dari para pembaca. Karena kesan yang dihasilkan tidak melulu dalam bentuk komentar atau sesuatu yang sifatnya tervisual. Bisa jadi tulisan kita beresonansi pada kebaikan yang menular yang pada akhirnya menjadi amal jariah yang terus mengalir untuk si penulis. Bukankah ini lebih bernilai dari kata-kata yang termuat dalam kolom komentar. Niat yang benar tidak akan pernah salah.

Gue ingin anak cucu gue nanti mengenal gue dari cerita dan karya yang terukir rapih di blog ini. Yang gue bisa hanyalah menulis dengan jujur. Merangkai kata berdasarkan apa yang melewati lobus frontal dan cortex. Tanpa mengada-ada. Gue bukan penulis yang penuh retorika, atau menghiasi setiap tulisan dengan prosa dan gaya bahasa.

Menulis itu bukan membuat kata-kata indah yang menggugah. Menulis sederhana agar pembaca mengerti makna jauh lebih berguna.

Gue menulis karena gue suka. Menulis itu menyenangkan. Buat kalian yang mengaku “Tidak Mampu” menulis. Kalian sebenarnya bukan tidak memiliki kapabilitas, tapi kalian minus kemauan. frasa “tidak mampu” harus kalian ubah menjadi “TIDAK MAU”.

Iklan

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengapa Saya Menulis at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: