Cerita di Kampus Gajah

Agustus 27, 2012 § 3 Komentar

Lihat timeline pagi ini, dan gw baru sadar bahwa tanggal 27 Agustus 2012 adalah hari pertama masuk kuliah bagi mahasiswa Instittut Teknologi Bandung. Jadi pengen berbagi cerita tentang bagaimana kehidupan di ITB dalam perspektit saya

First Day in ITB

Hari pertama kuliah gw enam tahun lalu bener bener absurd. Gw masih berasa mimpi menjadi keluarga besar Institut Teknologi Bandung. Kampus yang selama ini cuma bisa gw denger dan liat di media.

GKU barat

GKU barat

Dari kosan di tamansari, gw ga nyadar kalo GKU barat itu bisa dicapai lewat gerbang timur (deket bonbin).  Gw malah dengan pedenya memilih lewat gerbang depan. Songong dan pengen eksis langsung berbaur. Tiba di GKU barat, gw kebingungan nyari ruangan. Sepertinya gedung ini dirancang untuk membuktikan kecerdasan mahasiswa ITB. Karena gw cerdas, kebingungan gw cuma sesaat. Dan pada akhirnya ruangan tersebut berhasil ditemukan setelah muter muter untuk beberapa waktu sambil ngedumel. Waktu itu GPS belum happening kyk sekarang. Mau minjem kompas mesjid salman, gw malu.

Rasa-rasanya bukan Cuma gw yang kesulitan nyari ruangan di GKU barat. Gw jamin anak-anak baru bakal ngalamin hal yang sama.

Tahap Persiapan Bersama (TPB)

TPB atau tahap persiapan bersama diidentikkan dengan siswa SMA kelas 4. krn perilaku kehidupan tahap ini mendekati apa yang diperoleh selama SMA. Bedanya tidak ada bel masuk dan bel keluar, serta tidak ada lagi upacara bendera tiap hari senin (alhamdulillah). TPB menjadi masa transisi seorang siswa menjadi mahasiswa sehingga tidak terjadi keterkejutan terhadap pola hdup mahasiswa yang bener-bener berbeda dengan anak SMA.

Masa-masa awal kuliah di ITB identik dengan beberapa tempat seperti : GKU barat, Oktagon-TVST, Kantin dan mesjid Salman, Perpustakaan pusat, comlabs.

Khusus untuk Oktagon-TVST, gw selalu mengalami kesulitan membedakan dua gedung ini, bahkan smpai sekarang. Kenapa ga dikasih spanduk di depan tiap-tiap gedung biar mudah diidentifikasi. Atau lampu kerlap kerlip yang bertuliskan OKTAGON dan TVST, biar ga nyasar kalo malem.

Kantinnya sebagian besar mahasiswa TPB adalah kantin salman. Kami rela berlama-lama mengantri untuk makan siang walaupun makanannya tidak begitu enak. Tapi karena belum banyak referensi tempat makan, kantin salman tetep jadi idola. Habis makan siang, solat dulu di mesjid salman sambil gogoleran atau ikutan mentoring biar siap menghadapi dunia kampus yang keras, cieee…

gogoleran di Mesjid Salman

gogoleran di Mesjid Salman

Perpustakaan pusat selalu rame. Ada yang belajar, ada yang diskusi, ada yang ngenet, ada yang ngorok. Komplit! Lebih lebih di masa mendekati UTS.

Gw sih prefer belajar di perpus bareng mereka yang lebih pinter. Belajar di lembaga privat terlalu wah buat gw.

Dan comlabs, tempat berseluncur di dunia maya bagi mahasiswa TPB kebanyakan. Selaen bisa ngenet, lo bisa ngeprint. Keuntungan lain ngeprint di comlabs, lo bisa ternak virus dan berbagi virus dengan temen..haha.

Tingkat dua

Bagi mahasiswa tingkat dua atau semester tiga, inilah petualangan memasuki dunia kuliah yang sesungguhnya. Karena TPB hanya dianggap sebagai siswa kelas 4 SMA. Semua serba diatur, masuk kuliah dengan jadwal yang mendekati jadwal anak SMA dengan mata kuliah 18 sks.

Lepas dari TPB, itu artinya memasuki keluarga baru di jurusan. Bakal menemui hari yang lebih berat karena harus melalui masa orientasi, pake jaket himpunan dan berpartisipasi dalam berbagai event yang melibatkan massa himpunan. Tongkrongan pun bukan lagi di perpustakaan pusat atau kantin masjid salman, tapi sudah petantang petenteng make jahim yang warna-warni di deket kantin jurusan.

Beban tugas akan jauh semakin berat. Tidak bisa lagi jalan santai pasang senyum tiga jari keliling GKU-Oktagon-TVST-Perpus. Yang menanti di depan mata adalah tugas setumpuk ditambah dengan jadwal dan agenda himpunan yang super sibuk. Sehingga tipes seringkali menjadi teman yang wajib hadir. Tapi serunya juga tidak kalah heboh. Karena masuk himpunan dan pengkaderannya itu lebih seru daripada loncat dari burj tower (Gedung tertinggi di dunia) tanpa pengaman.

Ada yang mau coba terjun bebas?

Ada yang mau coba terjun bebas?

Pun halnya dengan materi kuliah, pengayaan dan pendalaman dimulai di tingkatan ini. Semua semakin menjurus ke bidang yang akan kita tekuni.

Lanjut ke tingkat tiga

Tingkat tiga berarti memasuki fasa yang lebih dewasa dalam menghadapi dunia kampus dan jurusan. Fasa ini ditandai dengan peralihan masa kepengurusan di himpunan. Mahasiswa tingkat tiga bertanggungjawab terhadap perkembangan dan keutuhan di himpunan tersebut.

Materi kuliah semakin sulit. Bayangin ya, sebagai mahasiswa kimia, gw harus mendpatkan mata kuliah dengan judul “Kimia Fisika Polimer”. Gila ga tuh!!

Kimia aja udh bikin mabok ditambah pula dengan kengerian fisika, ehh polimer nongol buat pemanis, cakep!

Integral mewarnai hari

Integral mewarnai hari

Teori flory-huggins, volume parsial, dan bagaimana memandang polimer dari aspek termodinamika, geloooo. Kalo ga sabar, bisa bisa lo bunuh diri di kelas karena setres ngeliat integral tak berujung.

Gw yakin di jurusan lain ga kalah ribetnya. Dengan mata kuliah yang sangat amat ruwet. Untungnya MKDU jadi penyelamat. Mata kuliah yang bisa membuat kami bernapas.

Tingkat tiga berarti mulai show off senioritas kepada adik tingkat. Sok-sok an wise, orasi sampe muka memerah biar dibilang totalitas, dan marahin junior krna ga apal AD-ART himpunan (padahal dia sendiri alpa).

Tugas makin banyak, agenda himpunan juga semakin heboh. Manajemen waktu sadar tidak sadar sudah mulai terbentuk secara otomatis. snior nakal mulai lirik-lirik juniornya. “Biar adik junior yang cakep itu liat, siapa sih gw“,  Itu mungkin yang ada di salah satu benak senior di jurusan. Padahal si junior mau bilang, “Like I care”.

Tingkat Akhir (Skripsi)

Kalo ngomongin tingkat 4 yang identik dengan tugas akhir, berarti kita membahas dimensi waktu yang palng singkat selama berada di kampus. Empat tahun kuliah ditentukan oleh tahap ini. Tapi sungguh, masa-masa menyusun skripsi sangat cepat berlalu. Lo mejem, dan saat melek lo udah mengenakan jas/blazer di hadapan dosen penguji. Mennn, time that fast face you.

Tingkat akhir juga seharusnya mempersiapkan manusia baru, yang siap menghadapi kehidupan real. Sehingga ia tidak bingung melangkah dan menentukan tujuan hidupnya. Tidak sekedar menjadikan MNC (Multi National Company)  sebagai acuan kehidupan.

Harmonia in progressio. Boleh jadi hari ini kalian menapaki kehidupan baru sebagai mahasiswa, tapi tanpa disadari esok hari kalian sudah berada di gerbang kelulusan, menatap cerah masa depan.

Iklan

Tagged: , , , , , , ,

§ 3 Responses to Cerita di Kampus Gajah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerita di Kampus Gajah at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: