4 hal tentang Jakarta Versi Gw

Mei 30, 2012 § 8 Komentar

Hello world, End of September. Gw bisa kembali nulis berdasarkan sebulan pengalaman tinggal di Jakarta. Anyway, gaya bahasa gw jadi ketularan theposkamling nih :D.

A month and half tinggal di Jakarta membuat gw mengeluarkan uneg-uneg tentang kota ini. Gw memformulasikannya menjadi judul 4 hal tentang Jakarta versi gw. Yah meskipun belum komprehensif mengingat waktu tinggal gw di sini yang memang masih singkat, tapi boleh kan ya gw memberika sedikit pandangan. Check it out

1. BBM anywhere, anytime

Pernah berdesak-desakan naek kereta di jakarta? How do you feel? Grunting, Grumbling, Whining, Moaning. Semuanya campur jadi satu. Jadi satu karena ga cuma perasaan kesel, marah, sebel, panas di dalam kereta yang lo rasain, tapi juga campur bau, campur keringet, campur sumpah serapah, belum lagi yang tereak-tereak menjual dagangannya. In a short clause, you can easily find all good-absurd-ignorance things blend well in a train (especially for low class)

Dengan kondisi kereta api yang penuh sesak dan panas setiap paginya, ada fenomena yang unik setiap kali gw berpergian ke kantor dengan menumpang Commuter Line.

If only you glance for a while, ke kanan atau ke kiri, tidak peduli bagaimana kondisi di dalam kereta, Lo bakalan nemuin orang-orang yang sibuk dengan dunianya sendiri.
Ciri-cirinya : Mata fokus pada layar, dua tangan dengan dua jempol sebgai perwakilan sibuk menekan tuts-tuts keypad secara seksama dan full of concentration. Sesekali mereka senyum-senyum sendiri, padahal orang di sebelahnya (termasuk gw) sedang berusaha bertahan hidup di dalam kereta yang jumlah oksigennya terbatas dan sudah bercampur dengan gas-gas “unik” lainnya.

Itu baru di dalam kereta, belum lagi kalo lo bepergian dengan Trans-jakarta, atau angkutan umum lainnya. Pun di setiap tempat buat nyante atau rehat sejenak, sebutlah di 7-11. Jangan heran kalo ada meja yang dihuni beberapa makhluk (biasanya bocah gaol, dengan BB dan gigi kawat) yang duduk berdekatan, tapi tidak ada interaksi sama sekali di antara mereka. Mata mereka terhipnotis oleh layar kamera.

So, why did you come together and have same table dude, if you just focus on your damn blackberry. Ask your Chat-Friend come and you can talk as much as you want.

2.Crazy Traffic

Kalo saja ada kuis di TV dan memuat pertanyaan :

a. Apa yang membuat Jakarta terkenal?

b. Hal apa yang paling mudah ditemukan di Jakarta?

Tanpa perlu pilihan bantuan “ask a friend” atau fifty-fifty, gw absolutely point out Traffic Jam, sebagai jawaban dua pertanyaan di atas (Coba-coba hubungin Tantowi dan Helmi Yahya ah)

Kemacetan di Jakarta luar biasa hebatnya. Sampe-sampe lahir anekdot “Kalo ga mau macet, jangan hidup di Jakarta“.

Image kemacetan tampaknya lekat, erat dengan kota ini. Sekedar iseng, salah seorang temen pernah bilang “Jangan terlalu heboh dengan kemacetan di Jakarta. Jakarta itu macetnya cuma di lima tempat : Jakarta barat, timur, utara, selatan sama jakarta pusat”. Nah lho, it means smua tempat di Jakarta itu ga ada yang bebas dari wabah “Kemacetan”.

What about Highway(toll)? Jangan pernah mengidentikkan Jalan Tol dengan jalan bebas hambatan di sini. Karena setiap pagi Tol itu penuh sesak, jauh lebih padat daripada jalan biasa. Could you imagine, They pay and they are still trapped in Madย  traffic. Poor them!

Aspek transportasi menjadi sebuah dilema. Gw yakin pasti banyak pengendara motor atau mobil yang bolak balik kantor-rumah setiap harinya kepingin naek transportasi umum. Selaen berkontribusi ke masalah energi nasional, naek transportasi umum juga dapet mengurangi cape mengendarai kendaraan pribadi. In contrast, public transportationnya masih belum representatif bagi sebagian orang. Banyak pertimbangan membuat orang enggan naik kendaraan umum. Selain masalah keamanan: Supir ugal-ugalan, copet, kriminalitas lain, masalah kenyamanan juga menjadi faktor penting.

Let’s say kereta ekonomi yang murah meriah, atau kopaja sebgai alternatif. Lo bisa saksiin sendiri betapa jorok dan kotornya kereta ekonomi. Sampah-sampah berserakan di lantai, bau, dan sungguh tidak nyaman. Mungkin orang-orang bilang “kalo tidak mau susah jangan naik kendaraan umum yang murah, naek taksi aja”. Yup, you are extremely smart.

Poin gw di sini adalah ga semua orang mampu membayar lebih untuk sarana transportasi. Oleh karena itu, di samping upaya-upaya perbaikan transportasi yang dilakukan pemerintah mulai dari yang kelas ekonomi sampai eksekutif, kita juga wajib menjaga kenyamanan dan keamanan transportasi umum.

Hal kecil yang bisa lo lakuin mulai dari diri lo pribadi dan saat ini juga misalnya, Yuk buang sampah di tempatnya, lantai kendaraan umum bukan tempat sampah. Do not spil everywhere you like, those are not your private room. Queue please in all terminal, station or any other stuff involving massive human.

Karena salah satu kiat mengubah bangsa itu “memulai sesuatu dari diri sendiri” gw menyarankan buat melakukan perubahan itu dari diri kita masing-masing terlebih dahulu.

Volume kendaraan di jakarta meningkat setiap tahun. Ya iyalah, beli motor aja berasa beli es krim, laris manis. DP nya murah meriah, cicilannya pun bisa sampe berpuluh puluh kali. Tapi pas disuruh pake pertamax semuanya kebakaran jenggot. Jangankan para pengguna motor butut, mungkin pengguna Alphard pun marah marah menuntut keadilan, demi BBM bersubsidi. Absurd!

Sejatinya Jakarta harus jadi barometer bagi pembatasan jumlah kendaraan. Selain mengurangi kemacetan, aksi itu juga bisa mengurangi pemakaian BBM bersubsidi yang dapat berefek ke perokonomian bangsa.

Kalo saja Jakarta dibiarkan seperti kondisi sekarang, gw yakin tahun tahun ke depan jumlah kendaraan makin banyak dan efeknya apa? Pas mobil lo mau keluar, macet sudah mulai dari kantor sampe rumah kediaman anda yang mewah tersebut. Taste it!

3. Social Gap

Saat berpergian ke kantor dengan kereta, selaen pemandangan para BB-ers yang stick to their gadget, lo juga bisa melihat gedung pencakar langit sampe-sampe leher sakit karena mendongak ke atas buat ngeliat atasnya. Tapi pas menjatuhkan pandangan ke arah bawah,. For God Sake, so contrast.

Rumah-rumah dari triplek berjajar di sepanjang rel kereta. Rumah reot yang mungkin ambruk hanya karena deru mesin Toyota Fortuner milik parlente yang menghuni lantai ke-n gedung yang ada di depannya. What a life, gw bergumam.

Jangan tanyakan anak-anak jalanan di kota ini. Kehdupan yang keras sudah menjadi hidangan yang disantap setiap harinya di saat bayi-bayi berkelas merengek meminta gadget terbaru. Miris, itu yan bakal lo rasain kalo masih punya nurani. It is extremely cruel, life in Jakarta. Social Gap bener-bener terlihat secara jelas, gamblang.

4. Centre of prosperity

Griya Alam Segar, Hunian bernuansa hijau. Akses ke jalan tol hanya 15 menit, bunga 15% flat. Cepat pesan sekarang, harga naik besok. Anung Podomampir Land

Sering melihat advertisement di atas. Kalo lo TV-maniac gw yakin lo eneg ngeliat promosi gencar-gencaran bisnis properti yang ngiklan di TV. Selaen ganggu acara favorit, iklan itu juga bisa bikin kaum berekonomi rendah makin gigit jari. Bagus kalo mereka termotivasi untuk beli rumah itu, dan jadinya giat kerja. Tapi kalo mereka setres karena kebayang mulu dan ga bisa beli, terus depresi lalu bunuh diri? anyone take responsibility?

Thats just a joke. Semua gambaran kemakmuran, kebahagiaan dan sumber keuangan berputar dan berpusat di Jakarta. Adapaun Sumber daya alam yang ada di sumatera, kalimantan, papua dan kota-kota lain cuma sebates “sapi perah” yang diambil susunya. Sementara semua perputaran keuangan, investasi, trading sebagian besar terjadi di Jakarta. Itulah mengapa Head office perusahaan-perusahaan besar tidak di kota lain.

Here, you can encounter great, tall building that you will never ever find in another town in Indonesia even if you dream about it.

Itu baru gedung perkantoran, belum lagi mall mall yang berdiri kokoh dan megah. Gambaran eksklusif terlihat saat menginjakkan kaki di Grand Indonesia, tampak semakin mewah berada di Mall Taman Anggrek, gahol di Plasa semanggi, dan nongkrong di Pasar Senen, hahaha.

Centre of prosperity, I name it. Karena segala kemewahan, kemakmuran sepertinya ada di Jakarta. Ekspatriat-ekspatriat mondar-mandir di jalan-jalan prtokol. Belum lagi orang lokal berkantong tebal macem Aburizal Bakrie, Chairul Tandjung. Pernah gw baca di buku marketing bahwa salah seorang pengusaha kelas kakap, gw lupa namanya, sengaja dateng ke Jakarta demi mencari tantangan dan mengembangkan bisnisnya. And, It works. He succeed.

Semua hal di dunia ini berpasangan, kalo Jakarta jadi centre of prosperity, jangan sampe dia juga menjadi centre of poverty.

Keempat hal di atas menjadi headline utama gw tentang Jakarta. Moga ke depannya kota ini menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu mari jaga bersama demi Jakarta yang lebih baik.

Iklan

Tagged: , , , ,

§ 8 Responses to 4 hal tentang Jakarta Versi Gw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 4 hal tentang Jakarta Versi Gw at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: