Ego-Sentris

Egosentris? Pernah denger istilah ini?

Yang jelas ga ada hubungan sama Teori Geosentrisnya Ptolemy yang menjadikan bumi sebagai pusat alam semesta dan juga ga berkorelasi sama teori Heliosentrisnya Nicolas Copernicus (Jago ya gw).

Entah kenapa gw jadi pengen membahas tentang apa yang disebut dengan Egosentris. Kalo berdasarkan definisi dari mbah gugel sih egosentris berarti menjadikan diri sebagai pusat pemikiran atau perbuatan. Tapi kalo bagi gw egosentris secara simpel berarti melakukan segala sesuatu untuk diri pribadi. Kalo ga setuju dengan definisi ini, monggo buat tulisan dengan definisi sendiri😀.

Berdasarkan pengamatan dari kacamata gw pribadi, tidak ada satu pun makhluk yang bernama manusia melakukan suatu tindakan, kegiatan, kerja, aktifitas bukan untuk dirinya sendiri. Mari kita amati!!!

Mari tengok yang terjadi pada Filantropis. Kebanyakan para filantropis mengaku bahwa mereka melakukan semua tindakan untuk orang lain. Mereka mungkin beratikulasi bahwa tindakan yang dilakukan berdasarkan kasih sayang dan tidak mendapatkan apa-apa atas apa yang mereka lakukan. Apakah benar begitu? Menurut gw sih kagak.

Orang yang melakukan kebaikan untuk orang lain pada dasarnya melakukan kebaikan untuk dirinya sendiri. Bohong jika mereka berkata bahwa mereka got nothing. Kepuasan diri, aktualisasi, kebahagiaan personal adalah manifestasi dari setiap aktifitas yang mereka kerjakan. Jika yang dijadikan parameter adalah wujud fisik mungkin para filantropis tidak memperoleh apa-apa. Namun jauh melebihi itu mereka memperoleh kebahagiaan yang memang kembali pada diri mereka pribadi.

Lalu bagaimana dengan pengabdian seseorang untuk daerah tertinggal misalnya, seperti yang sering kita saksikan dalam Program KickAndy Show. Melakukan kerja besar walau tak seorang pun yang peduli. Apakah mereka melakukan tindakan egosentris? Kalo gw yang ditanya maka jawabannya “iya”.

Tanyakan kembali pada mereka yang melakukan kerja keras, kerja ikhlas tanpa tanda jasa. Apa yang mereka rasakan ketika mandi keringat berusaha mati-matian untuk orang lain? Gw yakin pasti mereka senang melakukan itu. Mereka memiliki mimpi-mimpi atas kerja yang mereka lakukan. Paling tidak, sebagai makhluk beragama, mereka yakin akan pembalasan yang jauh lebih baik atas apa yang mereka kerjakan. Dan lagi lagi bukankah itu tindakan yang dilakukan untuk diri pribadi?

Bahkan gw berani berkata bahwa cinta kasih kedua orang tua kepada anaknya juga bersumber untuk kepentingan pribadi. Melihat anaknya tumbuh dewasa. Mengajari mereka berbicara walo kini kata-kata pedas yang sering mereka terima. Menjawab pertanyaan yang sama yang kita tanyakan berulang-ulang. Fragmen kisah seorang anak adalah lentera jiwa bagi orang tua. Walo belom pernah ngerasa jadi orang tua, setidaknya itu yang pernah gw denger.
Semua cinta, pengorbanan dan kasih sayang orang tua memang tidak berbalas. Pun halnya mereka tidak mengharapkan balasan dari kita. Karena bagi mereka, cinta itu adalah memberi bukan menerima.
Dan di saat mereka memberi maka kuncup cinta itu lahir, mekar dan berkembang. Mereka pun bahagia luar biasa saat si kecil mulai berkata. Tak bisa tertutupi rona saat kita berjalan terbata-bata. Saat kita diwisuda pun terpancar senyum terindah penuh warna.

Hierarchyo of Needs

Itulah egosentris. Semua bersumber untuk diri sendiri. Hal sekecil apapun dilakukan sejatinya  bukan untuk orang lain. Bahkan teori Hierarchy of Needsnya Abraham Maslow yang menjadikan Self Actualization di Puncak piramida bersumber atas kebutuhan untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Jadi Kesimpulannya kalo kita melakukan sesuatu kebaikan untuk orang lain pada dasarnya kita terlebih dahulu merefleksikan kebaikan yang terjadi untuk diri kita.

Bahkan Al-Quran dalam salah satu ayatnya berbunyi (Lupa redaksi)
In ahsantum ahsantum li anfusikum, wa in asa’tum falahayang artinya kalo kita melakukan kebaikan maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri dan kalo kita melakukan keburukan maka keburukan itu juga untuk diri kita sendiri.

Setuju dengan gw? Harus…..😀

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

4 thoughts on “Ego-Sentris”

  1. tapi menurut ane gan, karena egosentris menilai suatu apapun dari sudut pandang diri sendiri, bisa dibilang egosentris hanyalah pengaruh dari id yang tidak bisa ditahan oleh super ego sehingga seseorang tidak akan menengok ke arah hubungan antar personalnya, bisa jadi salah satu hirarki kebutuhan manusia gak akan terpenuhi dan bisa mengganggu jalan menuju aktualisasi diri, padahal kelima hirarki kebutuhan tsb membutuhkan intraksi dengan orang lain (yang pasti hubungan positif tanpa menimbulkan konflik internal (psikis)/ eksternal), lebih kurang mnurut gwa begitu maap kalo salah, thanks…😀

  2. analisa yang luar biasa masbro…
    ga ada yang salah dari analisa ente, namanya juga pendapat. ok deh, noted yang ente bilang. thanks buat kunjungannya…
    btw, mana nih alamat blog ente?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s