Salah rektor?

Maret 31, 2011 § 2 Komentar

Lagi males ngapa-ngapain, lagi males ngerjain tesis, lagi males baca referensi dan males-males lainnya. Gw udah lumayan jenuh dengan aktivitas yang ada. Bahasa kerennya sih gw udah supersaturated atau lewat jenuh. Pada kondisi ini gula yang dimasukin ke dalam gelas yang berisi air pun sudah ogah untuk larut.
Lalu, apa hubungan malesnya gw dengan larut engganya gula?? ga ada… *toenngg

Banyak faktor yang ngebuat gw jadi kehilangan semangat buat ngerjain tesis, padahal tesis ini harus kelar bulan april soalnya bulan Mei gw udah harus disidang. Tapi kalo dipikir ulang emang ngerjain tesis itu ngebosenin.

Pada dasarnya gw suka ngerjain tesis, tapi yang ga gw suka adalah saat lo lagi butuhin dana penelitian dan lo ga tau mesti nyari kemana duit buat ngedanain penelitian lo itu. Duitnya ada, tapi ga di tangan. Duitnya masih ada di langit-langit rektorat. Sengaja gw pake kata langit-langit karena memang rektorat seolah ga kejamah. Ga ngerti gimana nasib mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir. Padahal mereka dulu juga mahasiswa. Mestinya mereka amat sangat sadar dengan kondisi keuangan mahasiswa, jangankan untuk biaya penelitian, buat makan sehari-hari aj harus penuh perhitungan.

Entah kenapa pada akhirnya gw coba membuat kesimpulan dari dua premis yang sedikit banyak berhubungan. Kesimpulannya mengerucut pada ketidakcakapan para petinggi di gedung  yang diketuai Pak rektor yang notabene pernah menjadi dosen salah satu mata kuliah gw.

Gw menyimpulkan bahwa sejak adanya pergantian rektor, sistem distribusi keuangan di kampus ini semakin membingungkan. Birokrasi yang semakin ribet berujung pada lambatnya arus keluar masuknya keuangan dari pihak kampus ke mahasiswa. Entah apa yang gw alami adalah anomali semata atau memang ternyata sebagian besar mahasiswa, yang memiliki kepentingan dengan keuangan entah itu beasiswa, dana penelitian atau kebutuhan yang laen, mengalami kegalauan yang sama.

Untuk kasus gw, yang pertama adalah lambatnya uang beasiswa cair. Beasiswa S-1 itu tidak kunjung nampak batang hidungnya hingga kini gw udah nyaris lulus dari S-2. Sound so ridiculous. But that’s the fact, the truth depicts clearly.  Setiap kali Para penerima beasiswa nanyain ke Lembaga di kampus yang ngurusin beasiswa tentang beasiswa tersebut, kita selalu dapetin jawaban yang sama. “ Beasiswanya sedang diurus, bulan depan semoga keluar“. Jawaban yang sama terus saja dikeluarkan oleh Bapak-bapak itu. Kondisi ini membuat kami eneg dan kehilangan semangat untuk memperjuangkan hak kami.

Beasiswa dari salah satu bank swasta tersebut setidaknya sudah nyaris satu tahun kami tunggu tapi hasilnya nihil. Kami hanya mendapatkan harapan-harapan kosong. Sebenernya emang ga bisa menuding mereka di rektorat sebagai biang lamatnya beasiswa turun, tapi secara tidak langsung Pak rektor dalam kacamata gw berperan. Kenapa? Karena beliau adalah  pemimpin dari kampus ini, jelek baiknya menjadi tanggung jawab beliau. Kasus beasiswa sedikit banyak dapat menjadi preseden buruk.

Satu lagi yang paling parah adalah uang penelitian yang tidak turun-turun. Uang penelitian dan uang honor penelitian gw udah tertahan selama tiga mendekati empat bulan. Hasilnya apa? Gw kesulitan ngerjain tesis, ato bsa dikatakan tesis gw terhambat. Padhal gw harus lululs juli, dan ini udah mendekati april.

Tidak cuma kesulitan ngerjain tesis, honor yang tertunda juga ngebuat aktifitas gw tersendat. Sumber pemasukan terbesar gw datang dari uang honor penelitian tersebut, dan jelas sekali bahwa terhambatnya uang honor mencair membuat kantong gw semakin lama semakin menipis. Segala usaha gw lakuin demi cari pengganti si honor itu. Tapi lama kelamaan gw gerah dengan kondisi ini. Usut punya usut sepengetahuan gw uang penelitian yang terhambat merupakan urusan petinggi di rektorat. Entah apa atau bagian mana yang salah, yang jelas lambatnya kinerja birokrat maka rakyat semakin melarat.

Lagi-lagi gw ga mau nyalahin rektor. Tapi gw udah sangat amat bingung dengan kondisi keuangan kampus belakangan. Semoga masalah keuangan ini cepet kelar. Amin,,,,

Cukup deh keluhan hati gw di sore ini,,Intinya gara-gara duit penelitian lambat turun, gw jadi males ngerjain tesis. One day gw pernah ngetwit gini

“kapan indonesia mau maju kalo penelitian masih aj ga punya kemandirian,,,bergantung pada birokrasi yang menyebalkan”

Iklan

§ 2 Responses to Salah rektor?

  • HasanCakep berkata:

    lanjutan judulnya: jadi semua ini salah gue? salah teman-teman gue??
    heheh.. 😀

    ternyata begitu ya rasanya jadi mahasiswa yang setingkat lebih tinggi.. jadi sedikit phobia, tapi tertantang juga…
    semoga kita semua bisa melewatinya dengan sempurna…
    salam kenal!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Salah rektor? at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: