Penggalan Cerita di Sebuah Kereta

Februari 14, 2011 § 6 Komentar

Di sebuah kereta ekonomi yang penuh dengan peluh, sekelompok remaja terlihat asyik bercanda dan bercengkrama. Kereta tersebut tengah singgah di salah satu stasiun antara Lampung-Palembang. Ia sedang Meluruskan gerbong-gerbongnya yang letih berjalan puluhan kilo. Baturaja, stasiun tempat kereta itu kini berdiam.

keretanya pasti bukan yang ini

Remaja-remaja labil yang berceracau kesana kemari  asyik menikmati perjalanan pulang setelah menghabiskan tahun baru di pantai duta wisata, Lampung. Di saat sedang bersenda gurau, sekelompok pengamen datang mendekat.

Sontak, mendengar radar yang memancar atas respon para pengamen yang hadir membuat remaja labil (ababil aja nyebutnya biar gampang) kalang kabut. Secara tiba-tiba tanpa komando, para ababil berekspresi dengan sangat kreatif demi menghindari akang-akang pengamen. Maklum, uang di kantong sudah sangat tipis, nyaris tidak bersisa sama sekali.

Tidak ada lagi ketawa ketiwi, tidak terdengar adanya bunyi. Semuanya sunyi..senyap, nyaris tak terdengar apapun. Beberapa ababil memilih posisi tidur terlelap seolah habis berjalan ratusan kilo.

Di sudut lain ada yang menjadikan hape sebagai objek pengalihan fokus. Lupakan pengamen, fokus pada hape yang ada di depan anda. Sugesti ini berlaku hingga pengamen pergi.

Ngisi TTS atau baca koran adalah alternatif lain untuk menjauhi kontak mata dengan pengamen. Sambil berdoa dalem hati, “jauhi gw, jauhi gw,,beneran gw lagi bokek. Beli koran aj gw minjem duit tukang korannya“. 

Suara itu perlahan makin mendekat, melewati lorong-lorong hunian. Langkah kaki itu berdecit, semakin ia merapat semakin cepat jantung berdetak. Berharap mereka dapet kartu “skip” dan melewati barisan kami *berasa maen uno*.

Tapi ternyata tidak, sampailah mereka pada barisan kami. Sekelompok remaja labil yang hanya ingin hidup tenang, menyepi dalam kedamaian. maklum kalo rada didramatisir.
Satu, dua lagu mereka bernyanyi. Lagu yang tidak merdu itu pun semakin membuat kami gelisah.

Kekhawatiran terbesar kami pada saat itu adalah kami tidak memberikan uang dan bisa membuat mereka marah.

Ternyata Tuhan memang bertindak seperti apa yang disangkakan hambaNya. Kami bener-bener tidak memenuhi keinginan mereka. Sontak mereka marah, murka, bermuram durjana. Mereka kini memecahkan gelas, biar ramai katanya. Biar mengadu sampai gaduh. Lalu mereka berujar, tunggu aku di enam purnama, cinta!

Berbagai metoda yang kami lakukan tidak bisa mengelabui mereka. Bagi mereka trik kami sudah usang, kuno dan ga gahol. Kalo dulu udah ada SM*SH kita pasti udah kompakan bilang “you know me so well” sambil tarik2 baju n jingkrak2.

Pengamen yang marah ini tidak terima dengan perlakuan kami yang tidak memberikan mereka uang sepeser pun.
*sampe sekarang gw bingung, arti sepeser tuh berapa sih?? sepeser tuh sama dengan berapa rupiah kah? kalo dikonversi ke rupiah jatohnya berapa? sudah mengalami inflasi gini istilah sepeser masih gw denger.

Terjadi dialog yang seru saat itu, redaksinya gw lupa. Tapi lebih kurang seperti berikut

P untuk pengamen, A buat ababil

P : masa ga ada uang sih mas,..pelit banget *dengan nada maksa*
A : beneran ga ada  mas, kita kehabisan uang banget (yang jawab cuma beberapa, yang pura2 tidur bener bener pura2 ga tau temennya dalam kegalauan)
P : ngomongnya ga ada duit tapi bisa maen hape bagus
A : (dalem hati) “terserah gw, duit duit gw kenapa lo yang sewot”
waktu itu lom ada blackberry, hape nokia yang layarnya masih monokrom aj udah mewah banget…

A : beneran ga ada mas, berapa kali ku harus nyatakan ini, berapa lama ku harus menggerutu…
P : argggh, kalian..turun sini (dengan nada ngajak berantem). Kita selesein di Baturaja.
A : (nelen ludah) dengan ekspresi muka kebingungan, takut dan lucu nyampur jadi satu.
kok tiba2 ngajakin berantem, ga ada ombak ga ada badai.

Pengamen tersebut sekonyong konyong (gw juga bingung arti kata sekonyong konyong) turun dari kereta dengan penuh kekesalan.  Kita yang innocent cuma berharap tantangan tadi hanya sebatas isapan jempol, karena sebenernya kami ga enak kalo kereta basah oleh bau darah mereka.

Untuk beberapa saat kami berada dalam kegelisahan. Sang masinis pun tampaknya belom niat ngejalanin kereta. Tidak berapa lama pengamen tersebut turun dari kereta, salah seorang dari kami, kita sebut saja namanya putra, mengambil tasnya.

“lo mau ngapain put” kami berujar.

Dia lalu mengeluarkan sebilah senjata, terbuat dari logam dan runcing. Wow, Putra bawa pedang bermata terbaliknya kenshin nih. Atau dia bawa keris empu gandring.

Ternyata lamat kami pandangi, ada yang aneh dengan senjata yang dia nyaris keluarkan dari tasnya tersbut. Senjata itu bergagang plastik dan berwarna kuning… Jreng jreng, dan ternyata senjata itu adalah obeng. Gubrak!!!

Hancurlah harapan kami, meliihat sang pendekar hanya membawa sebilah obeng  dan itu pun nyaris dikeluarkan saat kereta sesaat lagi berjalan. Mungkin Putra adalah tipe jagoan jagoan berseragam polisi ala film India jaman dulu. Datengnya saat musuh udah pergi.

Putra jauh lebih baik. Ia punya keberanian untuk membela hak-hak kami. Tidak seperti bebrapa orang yang pura-pura tidur dan pura-pura ga tau temennya dalam kesusahan. Dan di antara yang tidur itu termasuk gw di dalemnya. Buat kami yang pura-pura tidur, kami bersyukur tidk perlu berurusan dengan pengamen tersebut, hahaha.. Gue menyimpulkan bahwa pura-pura tidur adalah cara paling bijak untuk menghindari pengamen di kereta.

Memang, yang paling banyak ocehnya itu yang paling sedikit tindakannya. Di saat kereta melaju meninggalkan Stasiun baturaja dengan segala keanehannya, kami masih membahas tentang tantangan dari sang pengamen.

“Wah, coba  gw ga tidur,.. pasti udah gw abisin tuh pengamen” #songong versi pertama

“Kenapa lo ga banguin gw, bisa-bisa nih kereta tadi penuh dengan darah” #songong versi kedua

“Yang mana sih pengamennya, anterin gw balik ke baturaja, biar gw kasih pelajaran mereka” #songong versi ketiga

Dan tahukah anda semua.. Mereka yang bersongong ria di atas, pada kenyataannya pura-pura tidur di saat yang laen ketar-ketir menghadapi pengamen.

Tapi memang cerita kami vs pengamen jadi penggalan memori yang tidak akan terlupa. Setelah heboh hebohan tahun baru di Lampung, ditutup dengan penuh kesongongan di kereta. Nyaris, kmi tidak membawa uang sepeser pun (sepeser keluar lagi nih) saat tiba di palembang.

Padahal kami nyaris menyewa segerbong kereta..oops!!!
Kesimpulan dari cerita kami adalah

1. Tidur, adalah solusi terbaik menghindari pengamen

2. Cari senjata laen selen obeng.

P.S : bintangnya di kereta itu adalah putra Kertajaya…hahahaha

Tagged: , ,

§ 6 Responses to Penggalan Cerita di Sebuah Kereta

  • hendra mengatakan:

    hahahahahahahahahahahahhahahahahaha
    wkwkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkw
    ngakak abis men ingat kejadiAN itu…..

    Pengamen: dak galak ngenjuk duit kau???? tau kau pi**t???

    langsung tedengar suaro putra, “ado apo ni????” ngapo???

    Pengamen: oooo, ni ketuonyo????

    Pengamen: turun dimano????? kutunggu di martapura kamu….
    (semua terdiam)

    pengamennyo turun…..

    langsung tedenger suara songong pertama….

    Putra: aku tadi tu la nak ngambek obeng…. untung dio la turun men dak tu la kutujah dio….. laju tragedi sepor bedarah siang ni……

    NB:
    * sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen)
    * cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan
    Tionghoa
    * PESER, setengah sen
    * pincang, satu setengah sen
    * gobang atau benggol, dua setengah sen
    * ketip/kelip/stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya)
    * picis, sepuluh sen (ada koin pecahannya)
    * tali, seperempat rupiah (25 sen, ada koin pecahan 25 dan 50 sen)
    * ringgit, dua setengah rupiah (pernah ada koin pecahannya)
    * kupang, setengah ringgit

  • hendra mengatakan:

    inget dak ado yang kececeran celano dalam di pantai?????
    siapo e???? hahahahahahahahaha

    salam untuk gun….
    omongi jangan sampe kececeran lagi CD nyo…..

  • hendra mengatakan:

    iyo, terlalu vulgar…
    maafkela. ngakak aku men ingat gawean2 dulu…..hahahaha
    saking ladasnyo, kalah logika aku……
    dak tpikir lagi vulgar atau idaknyo….
    hehe

    pas sadar la dak biso lagi dhapus…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Penggalan Cerita di Sebuah Kereta at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: