The Game Plan

Mei 8, 2010 § Tinggalkan komentar

Beberapa hari yang lalu, gue lagi pengen rehat dari segala aktifitas. Jadinya nyantai untuk satu malam dan memanfaatkannya dengan gonta ganti channel TV. Pada saat ganti channel, mata gue tertuju pada sebuah film yang terlihat cukup bagus dan lucu. Film komedi yang dibumbui dengan unsur drama di dalemnya. Gue awalnya ga tahu apa judul film itu tapi seusai nonton, gue seolah terhipnotis untuk mencari tahu lebih jauh.

Setelah googling, akhirnya gue tahu bahwa film itu judulnya adalah The Game Plan. Film yang dibintangi oleh Dwayne “The Rock” johnson ini memberikan rasa yang beragam dalam ceritanya. Unsur komedi, olahraga dan drama keluarga menjadi poin penting yang membuat film ini layak untuk ditonton. Fine, gue ga akan membahas film ini secara mendetail namun gue mencoba memberikan sedikit review

The Game Plan bercerita tentang seorang pemain American Football yang sangat terkenal yang diperankan oleh The Rock. Sebagai seorang atlet, kehidupan Joe kingmans (The Rock) dipenuhi dengan kemewahan. Dengan slogan “tidak pernah berkata tidak“, Kings (panggilan The Rock dalam film ini) menjadi sangat tersohor di kalangan pemain serta mereka yang gila dengan American Football. Tidak hanya sebagai seorang pemain, Kings juga tidak jarang mengambil alih peran sang pelatih untuk mengatur tim. Dengan segala kelebihannya, Kings menjadi arogan. Hingga suatu ketika kehidupan Kings berubah drastis. Secara tiba-tiba seorang anak kecil bernama Peyton (diperankan oleh Madison Pettis) datang ke kediaman Kings dan mengaku sebagai anak kandungnya.

Kings yang pada saat itu memang sedang tidak dalam status menikah, bingung dengan keberadaan gadis kecil nan imut itu. Sontak saja ia meminta semua pembuktian bahwa Peyton adalah anak kandungnya. Setelah dijelaskan panjang lebar, barulah ia menyadari bahwa Peyton adalah anak kandung hasil hubungan dengan mantan istrinya. Ia tidak sadar karena saat bercerai istrinya tersebut sedang hamil.

Berbagai kejadian lucu tercipta sejak Peyton hidup bersama dengan Kings. Perlahan gaya hidup Kings mulai berubah. Mulai dari kendaraan yang digunakan, kesehariannya serta banyak hal yang dipengaruhi oleh si kecil, Peyton. Peyton memang diperankan dengan sangat baik oleh Madison. Ia benar-benar digambarkan sebagai sesosok gadis kecil yang cerdas. Kehadiran Peyton membuat Kings semakin memahami arti cinta antara seorang anak dan ayah. Merasakan bagaimana arti penting seorang ayah, bagaimana seorang gadis kecil harus diposisikan hingga terjalin atmosfer yang kondusif antara ayah dan anak.

Saat pergi menemui Kings, Peyton mengaku bahwa ibunya yang tidak lain adalah mantan istri Kings sedang berada di Afrika dan akan datang sebulan kemudian untuk menjemput. Akan tetapi kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Peyton menyembunyikan sebuah rahasia tentang ibunya yang baru terungkap ketika Karen, tante Peyton dari ibunya, datang dan menngungkapkann kebenaran cerita. Ternyata Sara, mantan istri Peyton, telah meninggal enam bulan yang lalu akibat kecelakaan mobil. Peyton berbohong kepada Kings demi mampu bertemu dengan ayahnya tersebut.

Cerita berubah menjadi sedih mengharu biru ketika Peyton harus pulang bersama dengan Tantenya, Karen dan berpisah dengan ayahnya. Peyton ragu untuk tinggal bersama ayahnya karena khawatir karir ayahnya sebagai seorang atlet dapat terganggu. Pada bagian ini, alur cerita seolah berjalan lambat. Dialog antara Peyton dan Kings menggambarkan betapa dekatnya tali kasih antara seorang ayah dan anak. Mereka berhasil mentransfer ekspresi rasa sayang antar keduanya kepada penonton dengan baik. Ada ikatan emosi yang terjalin dengan sangat kuat dan yang membuat gue terbawa hanyut dalam film. Gue pun nyaris menitikkan air mata menyaksikan adegan itu.

Secara keseluruhan drama ini sangat layak untuk ditonton bersama keluarga guna menjalin kembali ikatan yang mungkin mulai memudar. Menonton film ini dapat menyadarkan kepada kita semua arti penting seorang ayah. Meskipun gue belum menikah, gue akan menjadikan bagian-bagian tertentu dalam film ini sebagai sebuah pelajaran. Pelajaran yang mengajarkan bagaimana seharusnya seorang ayah bersikap.

Good movie enough.. meskipun mungkin telat buat nonton tapi ga masalah.

Tagged: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading The Game Plan at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: