Seandainya aku

Maret 25, 2010 § Tinggalkan komentar

Korupsi telah menjelma menjadi sebuah virus yang persebarannya sangat cepat. Distribusinya seolah mengikuti kurva eksponensial terhadap variabel waktu. Semakin hari tindak dan perilaku korupsi semakin merajai kehidupan masyarakat dan Bangsa Indonesia. Tidak usah memandang jauh pada aktifitas korupsi oleh para pejabat negara, cukup dengan menoleh saja maka kiranya kita sudah bisa melihat bagaimana korupsi dan derivasinya menjadi konsumsi sehari-hari penduduk negeri ini. Di pinggir jalan, di kantor kelurahan, hingga melingkupi kawasan orang-orang terdidik seperti di sekolah maupun kampus-kampus yang ada. Dengan jelas kita bisa melihat tindak-tanduk yang terkadang tidak disadari merupakan bibit atau cikal bakal korupsi yang lebih masif.

“Power tends to corrupt”, Lord Acton berujar. Adegium itu terasa sangat tepat jika kita melihat realita saat ini. Kekuasaan diposisikan sebagai instrumen mereguk kekayaan sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan semua fasilitas yang ada. Akan tetapi premis tersebut bisa disarikan antitesisnya bahwa kekuasaan juga dapat dijadikan sebagai senjata utama dalam memberantas korupsi bahkan hingga ke akar-akarnya. Kekuasaan akan memberikan keleluasaan dalam mengakses semua perilaku korupsi yang terjadi. Oleh karena itu aku ingin berandai-andai. Berimajinasi sebagai seorang pemimpin negeri. Yang bertekad untuk menghancurkan korupsi dari mini hingga maksi.

Seandainya aku adalah pemimpin bangsa ini maka akan aku luruskan niat hati. Bahwa kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan bukan hanya kepada rakyat namun juga kepada tuhan. Distorsi paradigma dari pemimpin bangsa menjadi gerbang utama mengapa korupsi banyak dilakukan oleh pejabat negara. Kekuasaan yang diperoleh tidak menjadi sebuah cerminan kearifan dalam mensejahterakan rakyat namun justru menjerumuskan mereka, rakyat jelata, dalam neraka penderitaan yang semakin tidak berujung. Dengan demikian, dengan niat hati yang lurus teriring doa yang ikhlas aku akan berani berkata-kata layaknya pemimpin negeri Cina pada tahun 1998, “untuk mengatasi korupsi maka diperlukan 10 tiang gantungan, sembilan untuk para koruptor dan satu untukku jika aku melakukan hal yang sama”. Sebuah keberanian yang menggentarkan. Akan tetapi ini bukan sekedar retorika. Dibutuhkan keteladanan untuk menjauhi korupsi dalam keseharian seorang pemimpin bangsa bahkan hingga dimensi terkecil pun.

Seandainya aku adalah pemimpin bangsa ini maka keluarga menjadi lingkaran pertama yang akan aku bimbing dan bina tentang seputar hal mengenai korupsi. Dengan demikian akan tercipta sinergi antara aku dan lingkungan terdekatku yang berusaha saling mengingatkan. Jika perlu aku akan mengambil sikap seperti apa yang pernah Rasulullah Muhammad SAW katakan “jika Fatimah anakku mencuri maka akan aku potong tangannya”. Lingkungan kedua yang harus aku bersihkan dari semua perilaku korupsi adalah parlemen dan semua stakeholder organisasi negara ini, dari level paling atas hingga segmen terkecil. Diperlukan reformasi birokrasi agar tujuan mulia pemberantasan korupsi dapat dilaksanakan dengan baik. Setiap level birokrat harus diawasi kinerjanya hingga tumbuh kesadaran untuk memiliki kehidupan berbangsa dan bernegara secara bersih.

Seandainya aku pemimpin negeri ini maka kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi harus lebih ditingkatkan dengan kerjasama berbagai pihak guna menggalang dukungan sehingga KPK dapat menjalankan fungsinya dengan lebih baik lagi. Tidak ada intervensi, tidak ada manipulasi dalam keberjalanan KPK sebagai suatu badan mandiri.

Seandainya aku tegak berdiri sebagai pemimpin negeri maka aku akan mencegah korupsi sejak dini. Karena AA Gym pernah bertausiyah bahwa kiat mengubah bangsa dapat dilakukan dengan 3M, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil dan mulai saat ini juga. Mulai dari diri sendiri berarti menunjukkan kapasitas pribadi yang dapat menjadi panutan, menjadi teladan, tidak tamak akan kekuasaan apalagi harta kekayaan. Dari hal terkecil menggambarkan korupsi tidak selalu berarti rupiah dalam orde sembilan namun pungli di tengah jalan bisa berarti beban, beban korupsi yang selalu terpatri di dalam diri. Mulai dari saat ini juga berarti sebuah revolusi, sebuah tekad, sebuah keberanian untuk mengambil pilihan. Pilihan untuk mengikuti arus utama yang terperangkap dalam dogma kaku korupsi atau justru memilih langkah berlawanan untuk berani berkata-kata dan bersikap “tidak untuk korupsi” mulai dari saat ini hingga nanti.

Seandainya aku penguasa bumi pertiwi, semua instrumen, segala peluang mewabahnya korupsi dalam skala masif akan kusingkirkan. UN, sebagai pintu keluar seorang siswa dari dunia sekolah menjadi momok yang sentiasa menakuti. Tidak hanya peserta UN yang mengalami paranoid, perangkat sekolah pun seolah dihantui frustasi yang sangat ketika ujian skala nasional ini datang menghampiri. Berbagai cara dilakukan, kerjasama pun dilegalkan. Pihak sekolah salah, benar sekali. Tapi jika kita coba runut alur keberjalanan UN ini maka stakeholder pendidikan di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari dosa yang sama. Ujian dalam skala nasional namun perbaikan kualitas pendidikan masih bersifat lokal. Kita bisa membandingkan bagaimana kualitas sekolah di Pulau Jawa dan Pulau Irian. Tidak ada distribusi secara merata dalam mutu pendidikan maupun infrastrukturnya. Ironi memang ketika tidak ada kesetaraan dalam input namun output meminta keseragaman. Karena itulah, aku akan membuat kebijakan dan membuat sistem standardisasi kelulusan dengan cara berbeda. Jika perlu setiap daerah membuat standar kelulusannya sendiri berdasarkan parameter yang ditentukan oleh pemerintah. Karena setiap sekolah lebih mengetahui kondisi peserta didiknya. Kondisi seperti ini aku rasa perlu digalakkan sembari diadakan perbaikan dalam sistem pendidikan di negeri ini. Hingga semua daerah bisa terjamah, hingga semua wilayah dapat memperoleh kualitas pendidikan yang sama.

Tapi aku bukanlah presiden, aku bukanlah pemimpin negeri ini. Aku hanyalah seorang rakyat biasa yang sudah jenuh dengan segala hingar-bingar perilaku korupsi yang dapat aku temui di setiap sudut negeri. Semua mimpi yang aku tulis adalah sebuah harapan dari anak negeri. Memang semuanya tidak semudah dan sesederhana apa yang tertulis namun bukan tidak mungkin imajinasi itu dapat berubah menjadi sebuah realita ketika ada komitmen untuk menjalankannya.

Tapi aku tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki kekuasaan untuk mampu mengubah keadaan dengan lisan maupun tangan. Maka aku akan berdoa kepada Tuhan untuk mengirimkan pemimpin seperti yang ku impikan. Aku pun ingin berdoa agar setidaknya aku dan lingkungan terdekatku tetap menjadikan korupsi sebagai public enemy yang harus dibasmi, diberangus hingga ke akar-akarnya.

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Seandainya aku at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: