KORUPSI ANTARA DOGMA DAN BUDAYA

Maret 11, 2010 § 2 Komentar

Korupsi, sebuah kata yang mau tidak mau telah melekat dalam citra bangsa Indonesia. Penyakit ini telah menjadi sebuah dimensi kultural yang sangat akut dan sukar untuk dihilangkan. Tidak sulit untuk menemukan perilaku korupsi dalam keseharian kita. Mulai dari petugas pembuat akta kelahiran, para cukong atau pengusaha kelas kakap hingga elit politik dengan sembunyi maupun terang-terangan melakukan praktek haram ini.

Tidak ada yang tahu secara pasti sejak kapan korupsi dilakukan untuk pertama kalinya. Yang jelas kegiatan sejenis telah diwariskan secara turun temurun dalam sejarah kehidupan manusia. Untuk skala lokal, di negeri ini, era korupsi telah berlangsung semenjak lama pun hingga sekarang di era reformasi. Borok korupsi belum bisa dihilangkan secara holistik. Meskipun upaya-upaya untuk perbaikan telah banyak dilakukan. Akan tetapi terkadang tidak disadari bahwa upaya-upaya deaktifasi korupsi dalam kehidupan bermasyarakat tidak dijalani secara terintegrasi. Adanya upaya-upaya pengclusteran makna korupsi itu sendiri. Dalam prakteknya, korupsi seolah terdefinisi secara spesifik berupa tindakan mencuri uang negara dalam skala besar Sementara itu berbagai derivasi dari makna korupsi dipandang sebelah mata. Korupsi dalam jumlah kecil dan remeh-temeh kurang mendapat perhatian sehingga noktah kecil tersebut lama kelamaan menumpuk dan beragregasi membentuk sebuah domain dan pada akhirnya menjadi bibit-bibit koruptor yang baru.

Saya dan korupsi, sebuah frasa yang menunjukkan korelasi yang kuat atas kata-kata penyusunnya, Menggambarkan bagaimana perilaku korupsi terjadi dalam setiap fragmen kecil episode kehidupan. Pengalaman mengajarkan tentang kearifan. Tidak jarang praktek korupsi terpampang jelas di hadapan saya, baik yang dilakukan oleh orang lain pun yang pernah terdeteksi menjangkiti diri pribadi. Sebagai contoh adalah praktek korupsi yang terjadi selama masa Ujian Nasional (UN). Phobia akan kegagalan dalam menghadapi ujian membuat pihak sekolah membuat sebuah langkah sistematis untuk “menyelamatkan” siswanya meskipun menabrak koridor norma yang berlaku. Perilaku Pragmatis menjadi instrumen instan hingga akal sehat tidak lagi mampu menjadi filter dalam menyeleksi nilai baik dan buruk. Keadaan seperti ini didukung oleh padunya suara yang diciptakan oleh siswa guna mengamini tindakan yang dilakukan pihak sekolah. Seolah membenarkan pepatah “guru kencing berdiri murid kencing berlari”. Pemerintah pun terkesan tidak menjadikan fenomena tersebut sebagai sebuah early warning bagi negara akan lahirnya koruptor baru melalui proses yang tampak kecil namun terdesain dengan sangat rapi. Tanpa disadari kejadian korupsi pada level sekolah bisa jadi merupakan sebuah kawah candradimuka yang menempa siswa-siswa untuk membudayakan perilaku korupsi sejak dini. Dengan demikian akan tercipta sebuah dogma yang tertanam kuat dan pada akhirnya menjadi sebuah budaya.


Masih begitu banyak varian dari korupsi yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat di bumi nusantara. Hampir semua segmen masyarakat terindikasi mengidap infeksi virus ini. Beberapa kali aku menyaksikan sebuah transaksi yang bisa dikategorikan sebagai tindak korupsi. Mulai dari pelanggaran lalu lintas, pembuatan kartu tanda penduduk dan banyak hal lainnya. Kurangnya pemahaman akan definisi korupsi secara integral membuat banyak pihak mengabaikan tindakan memperkaya diri seperti berbagai perilaku yang disebutkan sebelumnya sebagai korupsi kecil-kecilan. Tanpa disadari bahwa dogma yang tertanam dianggap hal kecil dan tidak perlu dirisaukan eksesnya. Lama kelamaan semua derivasi dari korupsi tersebut menjadi kebiasaan. Ketika hal tersebut dilakukan secara masif maka kebiasaan tersebut menjadi sebuah budaya yang melekat. Budaya ini akan membentuk mental dan citra bangsa yang tidak pernah lepas dari korupsi.

Diperlukan kesadaran semua pihak untuk melawan korupsi. Karena masalah ini bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah saja atau masyarakat sipil saja melainkan perlunya konsolidasi setiap level masyarakat guna memberantas korupsi hingga ke akarnya. Teringat ucapan dari Ryunosuke Satoro, “sendiri sendiri kita hanyalah setitik air, bersama-sama kita adalah samudera”. Karena korupsi bermain pada dimensi kultural maka menjadi sangat penting untuk menggali solusi yang ekivalen dan bermain dalam dimensi yang sama, dimensi kultural.

Keluarga menjadi ujung tombak dalam menanamkan nilai-nilai yang mampu memberikan antitesis terhadap paradigma memperkaya diri dengan segala cara. Teladan yang baik dari setiap anggota keluarga akan membentuk kerangka berpikir anak secara sehat. Sementara pemerintah berupaya memberantas korupsi yang sudah establish maka keluarga berupaya mematikan bibi-bibit korupsi pada anak sejak dini. Sinergisasi yang dihasilkan seharusnya mampu memberikan secercah harapan bagi generasi muda bangsa ini untuk tidak menjadikan korupsi sebagai tontonan setiap harinya. Doktrinasi berpikir yang baik melalui teladan dan penanaman nilai-nilai agama harus menjadi constraint setiap keluarga untuk mencegah tertanamnya pola berpikir seorang koruptor.

Tidak hanya pada level keluarga, dunia pendidikan formal maupun informal seharusnya mampu menanamkan warisan pengetahuan tentang korupsi pada anak tidak hanya melalui kurikulum mata pelajaran melainkan lebih kepada pendekatan personal. Berikan reward bagi mereka yang beraksi dan berani melawan korupsi sejak dini dan sebaliknya berikan hukuman yang mendidik untuk setiap siswa yang terdeteksi akan perilaku korupsi. Memang tidak semudah itu untuk memberantas korupsi namun dengan komitmen dan kerjasama semua pihak maka korupsi dapat dihilangkan dari wajah dan citra Bangsa Indonesia. Tentunya dengan dukungan pemerintah untuk merealisasikan sejak saat ini segala upaya menjadikan pendidikan di sekolah sebagai garda terdepan setelah keluarga untuk menjadikan korupsi sebagai musuh bersama.

Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwasanya untuk menjauhkan bangsa ini dari korupsi maka peran serta semua lapisan masyarakat sangat penting, normatif memang, namun memang seperti itu kenyataannya. Pihak eksekutif dan penegak hukum lainnnya memberantas korupsi pada stadium yang akut sementara setiap keluarga memiliki peran untuk menanamkan keteladanan tentang kesederhanaan, menjauhkan pola berpikir koruptor dari dimensi kehidupan seorang anak sejak dini. Pun halnya pihak sekolah berperan menjadi keluarga kedua bagi seorang anak. Pembentukan karakter yang jauh dari paradigma berpikir tentang korupsi perlu ditanamkan sejak awal sehingga tidak ada distorsi pemahaman tentang korupsi dan kronco-kronconya. Karena untuk mengatasi korupsi yang bermain pada dinamika kultural diperlukan metoda pendekatan secara kultural juga. Hal ini berawal dari keteladanan akan kebersahajaan yang ditampilkan dalam pribadi keluarga dan pihak sekolah didukung oleh pemerintah.

Iklan

Tagged: , ,

§ 2 Responses to KORUPSI ANTARA DOGMA DAN BUDAYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading KORUPSI ANTARA DOGMA DAN BUDAYA at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: