Dawah antara idealita dan realita

Februari 26, 2010 § Tinggalkan komentar

Seorang kawan menceritakan bahwa ketika terjadi demo anti israel atas pembantaian umat islam palestina beberapa demonstran yang diangkat sebagai juru bicara masuk ke Kedubes Amerika. Tapi di sana – ketika melihat betapa modern dan canggihnya detektor di kedubes amerika- mereka bukannya protes, justru bersikap seperti tuan dan jongosnya. Rupanya mental terjajah masih menyilaukan pandangan.

Wajah dunia Islam dalam politik mengutip Olivier Roy (The failure of Political Islam, 96) yang menyoroti sejumlah gerakan keagamaan yang berada di dunia islam, seperti Ikhwanul Muslimin (Mesir), FIS (Aljazair), Jamaat-i islam dan Hizb-i islam (Afganistan) dan recolusi syiah (Iran). Menurutnya, gerakan tersebut dinyatakan gagal karena beberapa faktor, tidak adanya konsep yang jelas perihal penyelesaian masalah kemanusiaan, konsep masyarakat yang semu dan suram.

Selain dua hal di atas, Olivier Roy melihat adanya masifikasi pahaam kebencian terhadap kelompok lain, hilangnay ruang dan otentisitas keagamaan. Dalam penilaiannya, (umat) Islam gagal menawarkan model masyarakat yang berbeda maupun mas depan yang lebih cerah. Jadi, masih menurut Roy, kemenangan politik Islam di negeri Muslim hanya membawa perubahan superfisial di bidang hukum dan adat isitadt. Islamisisme, belakangan berubnah menjadi tipe neo-fundamentalisme yang hanya peduli kepada gerakan menegakkan syariat tanpa menciptakan bentuk-bentuk politik yang baru, simpulnya.

perekonomian yang mereka gagas sekedar retorika belka, menyelubungi bentuk sosialisme dunia ketiga maupun liberalisme ekonomi yang lebih cocok untuk spekulasi ketimbang produksi. Akibatnya, realitas sosioekonomis yang menopang gelombang islamisme msih berjalan di tempat dan tidak kunjung berubah ; kemiskinan, alienasi, krisis nilai dan identitas, kemorosotan sistem pendidikan. Setuju dan tidak setuju dengan pendapat di atas boleh saja. namun kenyataan berbicara, lembaga Islam dan manusianya masih jauh dari idealita.

Yang harus dikritisi dari pendapat Roy di atas adalah bahwa aktivis islam terus bergerak. Sesuai dengan istilah harakah yang berarti gerakan. Tulisan Roy, dipublikasian tahun 90-an, artinya bahan penelitain yang digunakan jelas dari tahun-tahun sebelumnya. Sedangkan umat islam paruh terakhir era 90-an dan memasuki era 2000-an melakukan lompatan. Sudah berubah secara drastis.

Tulisan ini bukan pembelaan atas sikap umat islam yang tak mau bergerak (atau bergerak tanpa konsep). Tapi tulisan ini mengingatkan bahwa umat Islam terus berproses. Terus berusaha untuk mendekatkan antara realita dan idealita. Untukj menyongsong janji Allah SWT, bahwa bumi ini akan diwariskan kepada orang-orang beriman. Tak soal Roy  dan Roy-Roy lainnya mengatakan bahwa waktu itu kalah. Kalah dan menang hanya masalah giliran. Karena Allah tidak akan bertanya, kenapa kalah??yang akan ditanya adalah apa peran kita : sebagai pengkhianat atau tetap istiqomah sebagai pejuang

-dikutip dari tulisan Eman Mulyatman, Sabili-

Iklan

Tagged: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dawah antara idealita dan realita at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: