Mahalnya Sebuah Keadilan di Negeri ini

Mahalnya sebuah keadilan di negeri ini, komentar inilah yang terucap tajam dari seorang prita mulyasari, seorang ibu rumah tangga yang harus menghadapi kenyataan bahwa hukum di negeri ini telah menunjukkan wajah aslinya, wajah asli yang penuh dengan lukisan ketidakadilan. Hanya karena mengirimkan sebuah surat elektronik kepada rekannya terkait dengan pelayanan yang kurang memuaskan dari RS OMNI internasional, ibu rumah tangga ini harus berurusan dengan pihak berwajib akibat curahan hatinya di dalam surat tersebut. Satu tahun lebih kasus ini tidak kunjung menemui titik terangnya. Bebas dari sanksi pidana, Prita mulyasari harus berurusan dengan sanksi perdata yang mengharuskan beliau membayar 204 juta rupiah kepada RS OMNI, dahsyat bukan!

Kasus ini menghadirkan ragam fenomena unik yang beririsan dengannya. Pada saat masa kampanye pemilihan presiden, hampir semua calon orang nomor satu di negeri ini menunjukkan simpatinya terhadap kasus yang menjerat Prita. Dukungan moral mengalir deras dari berbagai tokoh politik, bahkan presiden pun langsung turun tangan seolah-olah ingin menunjukkan kepada rakyat bahwa presiden kita peduli kepada rakyat kecil dan sudah selayaknya sosok presiden seperti ini harus dipertahankan. Tetapi apa?? Perlahan namun pasti satu per satu tokoh politik yang awalnya concern terhadap masalah ini perlahan-lahan mundur teratur. Tidak pernah lagi terdengar bahwa Prita kembali didukung oleh petinggi-petinggi politik itu. Absurd, memang. Tapi itulah kenyataan politik di negeri ini. Bahwa rakyat hanya memainkan peranan sentralnya selama masa kampanye, sebagai pihak-pihak polos yang coba diwarnai dengan segala jenis coretan kebohongan. Di saat Prita membutuhkan dukungan finansial karena harus membayar tuntutan perdata sebesar 204 juta tersebut tidak ada pihak yang berani bersuara, bisu terdiam kaku di singgasana kekuasannya masing-masing. Peduli apa sama rakyat. Memang tidak semua petinggi pemerintahan seperti itu, masih ada sosok yang peduli dengan rakyat dengan atau pun tanpa momen spesial dalam memberikan sebuah bentuk pertolongan. Sebut saja pak Fahmi Idris yang bersedia meringankan beban Prita dengan bersiap untuk membayar setengah dari biaya yang harus dibayar Prita kepada RS OMNI.

Pemerintah diam, tidak dengan masyarakat. Mereka bergerak, mereka hidup. Kepedulian mereka terhadap sesama membuat mereka berani melakukan tindakan nyata. Bukan hanya sebuah retorika atau janji belaka yang digadang-gadang oleh setiap pemimpin bangsa ini dalam setiap kampanyenya. Masyarakat bersiap membantu Prita dengan mengadakan posko bantuan. Dalam sebuah segmen berita ditayangkan tentang seorang ibu tengah berkeliling kompleks guna mengajak masyarakat untuk peduli dengan kasus Prita dan memberikan kesempatan kepada siapapun yang ingin membantu Prita dalam meringankan bebannya terutama dalam domain finansial. Recehan dikumpulkan sedikit demi sedikit. Seorang ibu lainnya memberikan celengan yang telah dikumpulkan selama tiga tahun untuk diberikan kepada Prita. Mungkin nominal dalam segenap pemberian yang diberikan masyarakat tidak seberapa. Akan tetapi ada bentuk kepedulian disana. Terbersit sebuah harapan bahwa rakyat tidak tidur, mereka telah terbangun dan bangkit dari segala belenggu ketidakberdayaan di hadapan sebuah rasa ketidakadilan akan hukum di negeri ini.

Kasus Prita hanyalah sebuah fragmen kecil dari berbagai gambaran lainnya tentang kenyataan hukum di negeri ini. Masih segar dalam ingatan kita mengenai kasus seorang nenek yang harus menempuh jalur hukum yang cukup melelahkan karena mengambil sebuah kakao yang telah terjatuh dari pohonnya. Belum lagi peristiwa yang menjerat dua orang pria yang menerima vonis lima tahun penjara karena mengambil buah semangka. Rasa lapar yang mendesak membuat kedua orang ini harus mencuri semangka dan pahitnya aksi ini dianggap bak sebuah kasus pencurian uang negara beratus ratus juta. Ironis memang apa yang terjadi. Di saat rakyat biasa harus merasakan getir dan kerasnya hukum yang ada, penjahat besar seperti Anggodo masih bisa berkeliaran dengan sebebas-bebasnya. Dengan dalih belum cukup bukti untuk menahannya, Anggodo masih bisa tertawa dengan lebar dan merasakan sebuah kemenangan luar biasa atas aksinya. Lalu bagaimana dengan cerita seorang Pasha UNGU yang tidak harus melapor kepada pihak berwajib atas tindakan KDRT kepada mantan istrinya. Manajer UNGU cukup mengatakan bahwa Pasha harus tour ke luar kota dan tidak bisa memenuhi panggilan untuk wajib lapor dan seketika Pasha bisa kembali bernyanyi dan tidak akan merasakan pengapnya sel tahanan.

Teringat kembali dengan sebuah nasehat kuno bahwa hukum di negeri ini laksana sebuah mata pedang terbalik. Semakin ke bawah, ia semakin tajam dan sebaliknya… menarik untuk dicermati bahwa dalam setiap putusan-putusan pengadilan yang telah membunuh sebuah rasa ketidakadilan maka dengan sendirinya sila kelima dalam falsafah bangsa kita telah mati dan hal itu telah terjadi sejak lama, hanya saja kita tidak pernah tahu atau berpura-pura untuk tidak tahu. Jika falsafah bangsa yang berarti identitas bangsa ini sendiri telah dirobek robek oleh maka sudah jelaslah bangsa ini kehilangan jatidirinya sebagai sebuah bangsa yang utuh.

Jika Fatimah mencuri, maka akan aku potong tangannya… ucapan ini diucapkan dengan lantang oleh manusia terbaik sepanjang masa, Muhammad SAW. Bukan hanya sebuah wacana-wacana penghisas kata-kata. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi sebuah rasa keadilan. Para sahabat sebagai pelaku sejarah telah memberikan bukti-bukti nyata kepada kita bahwa pernah ada masa di mana keadilan bisa dijalankan dengan seutuhnya, sedikit celah dan tidak retak dalam setiap kristal kesempurnaannya. Ali r.a pernah memberikan baju perang miliknya yang terjatuh dan diakui oleh seorang yahudi bahwa baju perang tersebut miliknya, milik yahudi tersebut. Padahal pada saat itu Ali r.a adalah seorang khalifah yang memimpin dunia bukan hanya sebuah negara. Namun karena pengadilan memutuskan bahwa baju perang tersebut milik sang yahudi maka Ali r.a dengan ikhlas merelakan baju perang tersebut. Rasa keadilan dan kemuliaan seperti inilah yang pada akhirnya membuat yahudi itu mengakui kebesaran islam dan akhirnya bersyahadat.

Saat ini kita hanya dapat menjadikan kisah-kisah rasul dan sahabat sebagai sebuah motivasi dan refleksi diri untuk bisa menjadikan keadilan sebagai bagian dalam keseharian. Bahwa ketika rasa keadilan telah terkikis oleh abrasi moral para pemimpin bangsa ini maka kita masih punya saudara, kita masih punya tetangga dan kita masih punya masyarakat atau rakyat yang siap menegakkan panji-panji keadilan. Bahwa kekuatan rakyat adalah mutlak dan selalu bisa menggoyang sebuah rezim ketidakadilan. Sehingga kita tidak lagi mengeluhkan sebuah pernyataan “mahalnya sebuah keadilan di negeri ini”

Penulis: andri0204

Pragmatis-oportunis. Menulis ya menulis saja. Sebuah ekspresi dari kecerdasan berpikir

1 thought on “Mahalnya Sebuah Keadilan di Negeri ini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s