Memaknai Sebuah Peristiwa

September 29, 2009 § Tinggalkan komentar

Jika saja frank salza lolos seleksi terakhir dan ikut terbang dengan pesawat antariksa challenger pada tahun 1987 maka ia pasti tewas bersama rombongan astronot lainnya di dalam pesawat yang sama. Akan tetapi, penyesalannya gagal dalam seleksi tersebut berubah menjadi sebuah rasa syukur yang tak terhingga setelah menyaksikan kejadian yang hanya berselisih sepersekian detik dengan kepedihannya meratapai kegagalan tersebut. Itulah hikmah, bagaimana kita memandang jauh ke depan setiap peristiwa yang terjadi dan mamaknainya dengan kacamata yang berbeda.

Beda halnya dengan Abraham  Lincoln, presiden USA ke-16, yang selalu mengkritik lawan politiknya dengan sangat keras. Bagi Lincoln, lawan politik adalah rival yang harus dikalahkan dalam kompetisi sehingga ia pun sangat tidak disukai bukan saja oleh lawan politiknya tersebut melainkan juga oleh pendukungnya sendiri. Kondisi seperti ini ternyata menjadi bumerang tersendiri baginya. Lalu Lincoln mengubah paradigma berpikirnya. Ia mencoba memaknai lawan politik merupakan saingan politik yang harus selalu ada untuk menjaga keberlangsungan demokrasi. Dengan demikian Lincoln menghargai dengan sangat luar biasa lawan politiknya tersebut. Keadaan ini membuat semua orang menaruh simpati kepadanya. Dengan pemaknaan berbeda Lincoln memperlakukan seseorang dengan cara yang berbeda pula.

Pemaknaan ini menjadi sangat penting dalam kehidupan. Hal-hal yang biasa dapat menjadi luar biasa ketika kita memandangnya dengan cara pandang yang luar biasa juga. Pemikiran yang terkotak-kotak hanya akan menghasilkan sebuah gaya berpikir yang stagnan karena selalu dibatasi oleh tembok-tembok penghadang. Berpikirlah di luar kotak, dengan demikian kita bisa memaknai segala peristiwa dalam hidup ini dengan cara tidak tak luar biasa. Andai saja Newton memaknai jatuhnya apel ke atas kepalanya merupakan peristiwa biasa-biasa saja maka mungkin saja Michael Hart tidak memposisikannya sebagai orang  kedua yang paling berpengaruh di dunia. Seandainya Stevie wonder memaknai kekurangannya dalam penglihatan sebagai sebuah musibah yang harus terus disesali maka kita tidak akan pernah mendengarkan kemampuannya bermusik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memaknai Sebuah Peristiwa at I Think, I Read, I Write.

meta

%d blogger menyukai ini: