Serpihan hati yang retak

Sebuah momen baru saja terlewatkan. kembali momen yang menghadirkan aku sebagai salah seorang pejuang, jika tidak mau disebut panitia dalam sebuah kegiatan. dalam setiap kesempatan, Allah selalu memainkan peranannya, membuka tabir hikmah yang selama ini selalu tertutupi oleh kabut tebal kealpaan. pun halnya terjadi padaku pada saat aku mengurai ide-ide di atas tuts keyboard ini..

malam semakin menunjukkan keperkasaannya, namun pekatnya malam tidak menghambatku untuk bercerita tentang kisah ini. ntah kenapa, emosi terus menyelimuti perasaan yang berkecamuk. kesal, marah, tidak percaya memenuhi kamus otakku. menyadari sebuah kenyataan, sebuah realita yang tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benak. kekecewaan semakin menjadi, terakumulasi.

aku terbangun menyadari sebuah kenaifan diri. semua yang tersimpan dalam memori hanya sebatas sebuah khayalan, imajinasi yang melenakan. ternyata selama ini kerangka berpikirku telah teracuni oleh kemuliaan yang menghanyutkan. apa yang terjadi pada diriku? kepada siapa rasa benci ini tertuju?? semua bias, semakin kabur menutupi jangkauan pandangku untuk melihat dengan jelas tentang sebuah kebenaran.

ah, mungkin aku yang terlalu memandang istimewa. atau mungkin memang ini yang tercitra. terlupa akan sifat seorang manusia hingga noktah kecil mengotori jiwa.

tapi….aku benar-benar tersentak. tidak pernah aku merasakan sebuah perasaan terkejut yang sangat. kata-kata itu, bahasa itu, ucapan itu benar-benar sebuah tindakan yang tidak pernah aku bayangkan untuk dilakukan. bermanja, berkata mesra seolah menembus hijab yang dikena. tapi apakah itu sebuah cela??apakah benar itu begitu hina? semakin aku berpikir semakin jauh aku dari jawaban. pantaskah hal seperti itu dilakukan? pantaskah tindakan itu dihalalkan? tidak ada yang mengharamkan, tapi pengetahuan memberikan sebuah batasan. bahwa ada batasan yang jelas yang seharusnya dipahami, disadari dengan sangat baik dan mengakar.

semakin aku membayangkan, semakin timbul benih-benih kebencian. memandang tinggi sebuah kemunafikan, berlapiskan topeng kebohongan. jahatkah aku? memberikan sebuah tuduhan, dugaan tanpa adanya keterbukaan untuk menjelaskan duduk persoalan. mungkin iya, aku terlalu picik memandang rendah. atau ini hanyalah rasa yang berbeda..sebuah kebencian sistemik.

rindu setengah mati d’masiv mengalun merdu, menemani malam ini di saat aku masih bercerita tentang kepedihan hati. kepedihan yang mengiris;

untungnya aku bercerita kepada orang yang tepat. yang mengerti dan benar-benar memahami kondisi ini. lantunan nasihat menyirami panasnya hati. memberikan sebuah kesejukan yang menenangkan. temanku menjelaskan bahwa tanyakan pada hati, kepada apa ia membenci. kenapa hati menghakimi. ujarnya, kita selalu berinteraksi dengan manusia. bukan dengan malaikat. selalu ada kesalahan yang terjadi, ada khilaf dalam setiap kata yang terucap. ia menambahkan bahwa mungkin aku yang terlalu memandang tinggi sesuatu. menyadari kelemahan seorang manusia menjadi poin penting dalam kehidupan ini. Dengan demikian pikiran akan bermuara pada premis tersebut sehingga akan mereduksi subjektivitas diri.

sebuah persetujuan terbersit di hati. mencoba menyamakan persepsi. mencoba menyadari kesalahan diri dan terus melakukan refleksi…

tapi..hati ini, masih tidak bisa menerima sepenuhnya. ada bagian yang tergores perih, lukanya sudah terbuka menganga. tak kan bisa tertutupi.  entah sampai kapan rasa ini tertahan, kecewa pada keadaan. moga waktu menjadi penawarnya. namun serpihan hati yang patah, akan tetap ada.